Cuek, sih Lu

Warning : postingan ini sungguh penuh keluhan alias galau abis. Jadi siapa yang sekiranya malay, karena bisa membuat suasana hati pembaca menjadi kisruh, silahkan menjauh.

Hari ini saya sedikit gelisah. Padahal udah konsul dengan teteh Nia, dokter Ian, Alnola Marselena..pokoe, semua yang bisa saya tanya, saya cecer deh. Alhamdulillah..sudah mulai tenang. Meski, tetep aja ya, saya harus waspada.

Untungnya suami saya sedang ke Palembang. Kalo dia-na ada di rumah. Alamat doi bakalan sutris liat anaknya begindang.

Masalahnya begini. Hari jum’at, pulang dari Bandung, anak saya muntah-muntah, dan diare. Karena muntah sudah jadi kebiasaan, maka saya anggap semua baik-baik saja. Tetapi, hari senin, timbulah demam. Muntah plus diarenya sering. Maka pukul 10 pagi, tanpa mandi, saya bergegas ke emergency Bunda Menteng.

Diagnosa, ISPA. Karena tenggorokannya merah, dan melalui pemeriksaan stetoskop, agar berisik di dalam sana. Radinka telah mengalami tahap dehidrasi ringan. Terapinya adalah pemberian pedialyte. Setiap 10 menit, 1 teguk. Skenario terburuknya ialah, JIKA Radinka menangis tanpa airmata, tidak mau minum samsek, Radinka sudah memasuki tahap dehidrasi sedang, maka Radinka harus disegerakan dirawat inap di Rumah Sakit.

Lantas bagaimana dengan diare dan muntah? Itu juga karena virus.

Sebagaimana kita ketahui. Virus tak ada obatnya. Hanya menunggu masa inkubasi selese, dan daya tahan tubuh membaik, virus pun akan bubar jalan. Jadinya PR untuk saya, Radinka harus makan yang beres. Tidur yang mumpuni. Jangan keluyuran dulu.

Karena Radinka mempunyai riwayat alergi pencernaan plus pernapasan (mungkin kinder-asma) maka, dokter meminta saya untuk eliminasi makanan basic 1. Atau mulai memberikan makanan yang aman saja, yakni, susu UHT plain, daging sapi, daging kambing, tahu, tempe, buncis, wortel, ikan tawar, kacang panjang, bayam. Apel, jambu biji, pepaya, pear. Selain itu forbidden. Nah lho, puyeng dah ah emak.

Keesokkan harinya. Dinka recovery dengan cepat. Mungkin karena saya sudah menerapkan eliminasi basic 1 tadi. Sehingga daya tahan tubuhnya membaik dengan kilat. Saya pun mengantarkan kakaknya, si Zena ke sekolah, seperti biasa.

Namun, hari kamis, Zena mulai demam. Saya memutuskan agar Zena tidak usah sekolah. Radinka masih baik-baik saja. Tidak ada demam. Hanya ingusnya saja yang meleleh.

Nah.

Karena saya konsentrasi pada Zena. Saya mulai teledor. Saya membiarkan Radinka diberi roti selai kacang dan cokelat. Saya meng-ignore saat Radinka makan pisang 4 biji. Saya menutup mata saat Radinka makan sate padang, yang berbumbu kacang tanah. Saya membiarkan Radinka melahap spageti saus tomat. Apapun yang disantap olehnya, saya biarkan. Lupa bahwa virus sedang mengintai dengan lihai, dan Radinka belum fit benar.

Maka ‘kiamat’ pun terjadilah. Hari minggu, Radinka demam lagi. Huaaaaa…panasnya sampai hari ini dong. Berapa suhunya? 40 derajat sajo. Sigh.

Batuk menjadi-jadi. Rewel luar biasa. Minta digendong kemana-mana. Emak salah sedikit, dia ngamuk. Tidak mau makan. Hari ini hanya minum madu saja. Saya sudah berikan parasetamol, tapi reaksi agak lamban, 1,5 jam kemudian diana baru bisa karajo.

Ah tobat tobat tobat! Gara-gara saya cuek, jadinya Radinka kena virus ulangan yang dampaknya lebih dahsyat.

Radinka ngeluh, sakit kaki lah. Minta pijat lah. Emak lagi asik ngeDJ alias nyuci piring, dia-na mau eeklah. Pokoknya, emak dikerjain abis. Hah.

Itulah sebabnya, saya sepertinya cukup mempunyai 2 krucils saja. Mengurus 2 anak pun rasanya sudah tak becus. Energi terkuras habis. Kalo nambah lagi? Yassalam!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s