Biarkan Dia Menggonggong (Cerpen)

On Sunday, December 2, 2012, Sarah Utami <sarahutamilagi> wrote:
(Ayem sori, ini repost, soalnya ntar kelian bertanya ini fiksi apa curcol. Maka saya tegaskan, ini fiksi ya, Bray! Do’ain masuk Kompas atau Femina ye..*kecewes-kecewes-berdo’a* )

> Ketika aku turun dari kamarku di lantai 3, aku melihat anak sulungku sedang melahap roti berselai coklat yang dipantang oleh dokter, karena anakku alergi terhadap benda 1 itu. Sepintas aku melihat, ibu mertuaku melengos dan kerlingan sinis menghiasi wajahnya. Di meja makan berserakan bungkus-bungkus snack dan chiki bervetsin. Aku terus saja berjalan menuju mug hijau besar bergambar kodok, yang airnya telah kuembunkan semalaman.
>
> Siang ini, aku tidak banyak bicara. Aku mencuci baju dalam diam. Menyetrika dalam hening. Menyapu dan mengepel rumah 3 lantai ini dalam senyap. Memandikan, membedaki dan menyuapi anakku dalam sunyi. Aku biarkan pikiranku merambah kesana-sini. Anakku, suami dan ibu mertuaku mengetahui dengan pasti aku murka. Akhir-akhir ini, mereka memang selalu saja memancing-mancing amarahku, dan mereka tahu, aku paling kesal jika pantanganku dilanggar. Aku selalu bilang. "Tolong, aku tidak menuntutmu macam-macam. Aku hanya minta, jika anakmu sedang tak sehat jangan beri dia makanan yang membuatnya diopname!" Mertuaku tentu saja menentang teori dokter itu, dan mengatai, "dokter bodoh aja dipercaya." Ya, ibu mertuaku yang pemarah, penuntut, dan sombong itu, selalu ingin membuat hatiku terluka. Hanya saja, kali ini aku tidak ingin membuat suami dan ibu mertuaku girang. Aku yakin, mereka sangat senang membuatku sedih, kesal atau gelisah.
>
> Oh, aku tidak percaya ada orang sejahat itu. Tapi, aku mengalami sendiri. Bagaimana dia menjelek-jelekkan sodaranya sendiri, dan memfitnah pembantuku mencuri uangnya. Berkali-kali, jika dia tidak sreg, dia selalu menuduh mereka mencuri. Dan itu hanya jalan supaya pembantuku keluar.
>
> Sampai malam hari, aku tak juga membahas masalah itu. Aku tak bicara sepotong huruf pun. Suatu yang ganjil sesungguhnya, karena biasanya aku akan memprotes sikap ibunya yang kurang ajar itu. Meski pada akhirnya, jika suamiku tak berkenan dia akan melempari aku dengan sesuatu, atau menempelengku dengan makian. Dia merasa ibunya yang terbenar. Dan menganggapku hanya sampah atau monyet.
>
> Ya, sudahlah. Toh aku telah menggangapnya gila. Dan satu-satunya jalan untuk menghadapi orang gila adalah dengan mengabaikanya. Percayalah, itu cara yang ampuh. Aku tak acuh pada apapun yang dihamburkan oleh mulut kotornya. Mulut yang memerlukan saringan. Atau mulut yang seyogyanya mengenyam sekolah. Apalagi jika itu cacian berupa, "pake otak dong!." Atau tendangan kata seperti, "awas kalo anak gue sampe kenapa-napa, gue hajar, lu!."
>
> Dulu, aku akan membalas perkataanya hingga terjadi baku hantam, namun kini, aku sudah puas dengan menganggapnya binatang jalanan. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Kasihan anakku jika kami terus saja berkelahi di hadapannya. Maka, karena aku bukan anjing. Dan aku juga waras, aku harus mengalah. Dia hanya mencari perhatianku dengan tusukan kalimat atau hantaman barang. Maka, aku tidak akan memberikan perhatianku. Jadi terserah dia mau berkata apa, aku tidak peduli, dan tidak ambil pusing.
>
> 9 tahun yang lalu, aku mengenal suamiku, yang dikenalkan oleh seniorku di kampus. Dia 1 fakultas, namun beda jurusan. Saat itu, karena aku telah bekerja, aku berkata pada diriku sendiri untuk berhenti mencari pencarianku. Aku merasa telah lengkap. Apalagi yang mau dicari? Dia sopan, baik hati, sudah mapan dan sabar sekali. Apalagi pembawaannya yang kalem, bisa mengimbangi tabiatku yang cuwawakan dan tak bisa serius. Canda tawa bagiku sangat penting, waktu itu. Dan calon suamiku bisa menyeimbangkan itu.
>
> 8 tahun yang lalu, aku diajak ke rumahnya dan dikenalkan pada ibunya yang menatapku sebelah mata. Tatapanya merendahkan. Bahkan tidak menegurku sama sekali. Dia melengos saat aku mengulurkan tangan. Hanya Papanya yang baik, menyambutku dengan hangat. Aku sadar, bahwa hubunganku tidak mulus terganjal restu ibunya, dan akan menghadapi jalan mendaki nan terjal.
>
> 7 tahun yang lalu, saat hari pernikahanku telah ditentukan. Setelah ibuku merasa girang bukan kepalang, karena anak gadisnya dilamar orang. Dia menampakkan perangainya yang asli. Tentu saja, ibu mana yang tidak bahagia, melihat anak gadisnya akan menikah dengan pria yang sudah mapan lagi sopan dan baik pekertinya. Ini suatu kemajuan, karena sebelumnya aku selalu membawa lelaki berambut gondrong. Pacarku ketika aku kuliah, selalu ibu anggap berandalan.
>
> Ternyata aslinya, calon suamiku seperti Hitler. Otoriter, posesif dan kasar. Dia menyuruhku berhenti bekerja, dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Dia tidak mendukungku, dan takut tersaingi olehku. Setiap saat ia menyuntikan keyakinan ke otakku bahwa aku ini wanita bodoh dan tidak bisa diandalkan.
>
>
> Sialnya, aku terjebak. Aku tidak bisa mundur. Jika aku membatalkan pernikahanku yang bahkan undangannya telah disebar, aku yakin akan mengirimkan ibuku ke liang lahat. Apa aku tega?
>
> Pernikahan kakakku yang kandas 3 tahun yang sebelumnya telah membuat ibuku menginap sebulan di Rumah Sakit, apalagi ini? Aku akan mencoreng wajah ibuku. Dan ibu paling tidak suka itu.
>
> (Bersambung)
>
>
> Ya, dilanjutkan besok. Biar nggak pegel bacanya. Salam semanis gula batok dari Sarah Kece. Dilarang protes, yg protes ntar kualat lho. (´ε`)
>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s