Berpisah

Ping! Itu bunyi BBM ketigabelas. Aku tahu tanpa ragu siapa yang berulah. Suamiku. Dia terus-terusan memaksaku untuk berbicara dengannya. Padahal dengan gamblang telah kukatakan 15 menit yang lalu, bahwa aku tidak mau lagi berbicara apapun dengannya, dengan media apapun, apalagi berbincang langsung. Ya bicara. Aku tidak mau membaca atau melihat isi kepalanya yang tersembur dari mulutnya atau dari tulisannya. Bagiku, keputusan ini tidak bisa diganggugugat. Tidak olehnya. Juga ibunya.

Ibunya. Itulah alasanku untuk memperbulat keputusan ini. "Kenapa kamu selalu mendengarkan perkataan mama, seolah-olah dia itu Nabi, sementara setiap aku berbicara kau balas dengan tendangan. Padahal, aku berbicara hal benar. Hal yang dianjurkan dokter. Pun aku mengatakannya dengan baik-baik," kataku kemarin lewat telepon. Dia tidak mengiyakan. Tidak pula menolak. Ia hanya diam lantas memutuskan sambungan telepon ditengah-tengah kalimat yang kucetuskan. Sungguh tak sopan. Dan aku memutuskan untuk tidak pernah berbicara lagi dengannya.

"Apa surat gugatan ceraiku sudah kau terima? Sampai jumpa di Pengadilan," tegasku lewat sms. Sengaja aku tidak menulis di BBM atau di Whatsapp, karena aku harus memastikan bahwa dia akan membacanya dan menangkap dengan jelas.

Aku memang akan sangat keras kepala jika telah meyakini sesuatu. Kupikir-pikir sekarang, sifat itulah yang menyebabkan aku tetap waras dan kuat. Jika tidak, mungkin aku telah ‘tidur lelap’ di liang lahat. Atau akan jadi penghuni Rumah Sakit Jiwa. Atau pasrah saja disiksa sampai tua bangka. Atau jadi psikopat pembunuh berdarah dingin. Namun semua pilihan itu tidak terjadi padaku. Karena aku keras kepala. Dengan tekad baja, aku membangun percaya diri. Dengan mantap aku tidak menyalahkan diri sendiri. Saat aku harus dioperasi caesar, setelah sebelumnya aku mengalami nyeri dan kontraksi hebat bahkan sampai nyaris melahirkan normal karena telah 9 bukaan, ditambah aku digaploki oleh suamiku karena menurutnya aku berteriak lebay, aku mensugesti diri agar lekas sembuh, karena hanya akulah yang bersedia bertanggungjawab mengurus bayiku. Suamiku kemana? Melayap tidak keruan. Bahkan menjengukku ke Rumah Sakit pun tidak. Namun ajaibnya, ditengah carut-marut itu, aku bisa berjalan pelan-pelan di hari ke-2.

Saat ASIku tidak keluar, aku menyugesti diriku bahwa ASI pasti menyembur jika aku bersabar memaksa bayiku terus menghisap aerolaku. Meski bayiku lebih sering terlelap daripada menyeruput ASI, namun aku tidak hilang akal. Kusentil pelan kakinya, dia akan menangis, dan akhirnya dia mau bangun. Ini kulakukan demi bayiku juga, bila dia malas bangun, nanti Bilirubinnya tinggi. Dan suamiku bisa murka gara-gara itu. Aku ingat, di hari ketiga, ASIku meruah. Bahkan payudaraku membengkak dan nyeri. Demi ASI itu aku melahap makanan apa saja. Tak peduli akan tambun. Berusaha tidak rewel. Tidak cengeng. Tidak merengek. Dan tidak mengeluh. Karena jika aku tak tenang, hatiku tak damai, ASI akan mogok keluar. Bahkan, sampai aku berkeras kepala menjaga moodku tetap baik, meski suamiku semakin menggila setelah aku melahirkan. Ternyata aku berhasil. Aku sanggup menyusui anakku sampai usia 2 tahun. Mengurus kedua anakku tanpa bantuan pembantu. Bahkan sampai mengurus dan mengepel rumah berlantai 3 ini. Semua cacian dan tempelengan yang merecoki hari-hariku kuanggap angin lalu. Toh, aku memang sudah punya rencana. Jika telah tiba waktunya aku akan meninggalkannya. Aku memang keras kepala. Aku ambisius.

Dibanding suamiku, ibu mertuaku masih lebih ringan kadar buasnya. Dia memang sama kejamnya dengan suamiku, namun tidak terang-terangan. Dia akan menyuruhku dengan sindiran. "Amboi! Betapa kotornya rumah ini!" Maksudnya agar aku menyapu dan mengepel rumah besarnya ini. Dan tentu saja akan aku kerjakan. Karena aku juga tidak betah berada dalam ruangan berdebu. Atau ibu mertuaku berkata hal-hal negatif mengenai diriku di belakangku. Pernah aku mendengar tak sengaja, bagaimana dia menghasut suamiku agar memberi makanan yang aku pantang, pada anak-anakku. Atau memfitnah di belakangku bahwa aku mengurus anak-anakku secara serampangan. Aku tidak memandikan anakku sampai bersih. Atau mengatakan bahwa aku sering menelantarkan anakku dengan tidak memberi mereka vitamin dan tidak memberi susu formula. Atau mengatakan aku ibu yang ribet. Yang mau saja menyuapi anak-anakku padahal usia anakku telah 3 tahun dan 2 tahun. Aku sibuk memasak nuggetlah, sosislah, donatlah, pudinglah, atau aku sibuk mengolah masakan aneh-aneh. Padahal semua itu aku kerjakan agar anak-anakku mau makan. Tapi sudahlah, aku tidak anggap mereka ada. Mereka telah mati suri di mataku.

Aku menguatkan diri demi ibuku. Dulu, ibuku sakit-sakitan. Dan aku tidak tega jika membuat ibu berduka melihat anak perempuan semata wayangnya disiksa orang. Meskipun aku tahu bahwa ibu sebenarnya sudah sadar bahwa aku menderita. Ibuku sering berkata. "Apa suamimu tidak pernah membantumu, Nduk? Masa semua pekerjaan rumah tangga kamu pegang sendirian. Ya ngurus anak. Ya rumah. Kok kamu koyok babu, nduk?" Aku sering menutupi kebejatan suamiku saat ibuku heran karena suamiku selalu pulang tengah malam. Ibuku minta pulang keesokan harinya. Dan diam-diam aku tahu alasannya. Aku baru berterus terang, saat ibuku wafat. Aku menggerung-gerung di kuburan ibuku dan memohon ampun, karena aku tidak bisa membahagiakan ibu di detik-detik terakhirnya. Saat ibu di ICU, dan aku menunggui ibu, suamiku menelepon lantas berkata kotor mengecapku sebagai istri durhaka dan memaksaku pulang saat itu juga. Dan keesokan harinya, ibu pulang selama-lamanya. Aku bersumpah dalam hati akan membuat suamiku menyesal karena dia telah memperlakukan aku seperti keset.

Janji itu aku tepati saat ini. Ketika aku telah menelurkan novel-novelku. Kala aku telah membuat lusinan skenario FTV dan film. Saat dimana aku tidak membutuhkan siapapun untuk menopang hidupku. Saat dimana kehadiran suami sedikit bisa ditiadakan. Aku sudah memiliki pendapat sendiri tentang konsep suami ideal. Tentang perlu tidaknya memiliki suami dalam hidupku. Tentang tidak semua perempuan bisa dan harus mengalah terus disiksa laki-laki.

Bagiku, suamiku telah lama mati. Bahkan juga aku menganggapnya setan selama ini. Jadi aku tidak menghendaki kehadirannya. Tidak saat ini, maupun di hari yang lain. Namun kakakku memaksaku mengungkapkan alasan yang sebenarnya, dia mendesakku untuk berterus terang. Dia tidak habis pikir mengapa aku sampai meminta talak 3. Yang artinya tidak membuka jalan rujuk samasekali. Dia berpikir suamiku telah bersungguh-sungguh hendak mengubah kelakuannya. Buktinya dia mau menandatangani surat perjanjian bermaterai bahwa dia akan bersikap baik. Dia akan akan memberi nafkah, karena selama ini telah menelantarkanku.

"Apa sih susahnya memaafkan. Dia sudah mau bertobat. Dia kan bukan malaikat. Manusia wajar bila khilaf. Tuhan saja mau memaafkan hambanya yang mau bertobat. Kok kamu? Ah sudahlah. Kalo kamu tidak mau rujuk, oke, tapi pikirkan anak-anakmu. Apa kamu tega membiarkan anak-anak tanpa ayah?" Ujar kakakku dengan nada kesal. Kakakku memang mengetahui dengan pasti bahwa aku akan luluh mendengar kalimat. "Demi anak-anak." Tapi kali ini kakakku salah besar. Meski diiming-imingi demi kebahagiaan anak-anak. Aku tidak sudi hidup bersama suamiku.

(Bersambung)

Iklan

2 thoughts on “Berpisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s