Roman Picisan

Saya sedang mencoba menulis genre romance. Dan silahkah ejek saya. Julurkan lidah anda. Hina saya. Toh, saya hanya akan anggap anda angin lalu. Ha ha ha.

Saya ingin menulis romance bukan semata-mata genre ini sedang ngehits, atau berharap menjadi best seller (ya, bonus aja itu, sih). Lantas mengapa saya ngotot ingin menulis genre romance dan berbau komedi? Karena saya sangat menikmati proses menulis genre ini. Saya merasa melebur didalamnya.

Namun, dalam proses menulis buku ini, saya sering mendengar selentingan-selentingan kabar busuk, bahwa genre ini adalah genre alay, genre kaum cemen. Roman picisan adalah buku berkasta terendah. Yang membaca dan membuat berada dalam golongan terendah para kutu-bukuers.

Hmm, baiklah, sebelum saya mengoceh lebih lanjut, mari kita simak analogi-analogi sok tau yang saya bikin. Mengapa saya mengganggap kaum sombong yang sering asal bunyi ini sebagai manusia afu.

Begini.

Saya membaptiskan diri sebagai penyuka sayuran eksotis. Sebut saja nama sayur pare, sayur kembang pepaya, sayur jantung pisang, dll.

Tahukan kalian pare itu apa? Itu lho sayuran yang bentuknya lonjong, panjang, besar lagi. Rrrrrr. Abaikan.

Pare itu sayuran berwarna hijau, bergerigi, bentuknya seperti mentimun, terong atau wortel. Rasanya getir dan pahit, seperti cinta tak berbalas.

Ya, banyak orang yang tidak menyukai sayuran ini karena rasanya yang unik. Meskipun, khasiatnya, tak usah diragukan lagi. Teope banget untuk kesehatan. Walau rasanya tak manis seperti wortel. Meski rasanya tak gurih seperi brokoli, namun saya jatuh cinta lantas menggilainya, sejak saya berusia 8 tahun. Waktu itu ibu memasaknya dengan cara menumis. Tentunya, ibu saya merajang pare tipis-tipis dan mencampurnya dengan tempe yang diiris korek api? Rasanya? Mancap, Neik!

Tetapi, teman saya malah muntah lho memakan sayur ini. Padahal menurut saya, sayur ini sangat aduhai rasanya. Lantas, apakah tindakan saya yang menggandrungi pare ini adalah sikap yang benar? Dan teman saya yang tidak menyukainya adalah salah? Apakah sayur pare itu termasuk sayur yang terhormat? Atau malah sayuran kasta rendahan? Blekok namanya jika kita menghakimi. Karena selera bersifat subjektif. Emangnya kita harus seragam dengan khalayak ramai, gitu?

Contoh kasus lain. Teman saya bisa lupa diri, lupa mandi, dan lupa istri (eh), pun rela ditabrak odong-odong saat mendengarkan musik hardcore. Namun saya malah kelojotan bak kena ayan jika mendengarnya. Kepala senut-senut, kuping mendenging dan suara mendengking. Pokoknya dia menyukai yang keras-keras, sementara saya menyukai yang woles-woles (slow).

Contoh kasus lain: saya cinta mati pada kopi. Sumpah! Rela diciumi Aa Keanu Reeves, deh. Pokoknya kopi bagi saya itu bagai urat nadi. Sangat krusial untuk menjaga mood saya sepanjang hari. Padahal teman saya justru mual-eneg ketika mencium aroma kopi. Dan dia lebih memilih secangkir dua cangkir teh tarik untuk menemani hari-harinya. Dan karena beda selera saya menganggapnya hina? No! Gobleg namanya jika saya menghakimi dia nggak asik hanya karena orientasinya, eh karena kegemarannya.

Nah begitu pula dengan buku. Banyak yang bersuara vokal mencaci-maki komedi, misalnya. Atau menghina-dina genre romance. Mengata-ngatai. “Dasar lu cemen. Selera lu pun picisan.” Sementara dia terhormat karena membaca buku sastra yang berat-berat, atau membaca komik-komik yang menurutnya ciamik, atau bahkan dia tergolong kasta priyayi karena hobi membaca fisika dan ilmu antariksa, atau dia paling uang dipertuan agung karena membaca buku-buku filsafat atau buku-bukunya berbau propaganda politik, or teori konspirasi.

Menurut saya, selera tidak bisa menjadi patokan, apakah buku itu bagus atau buku afu. Apakah buku genre itu buku brilian dan genre ini buku bapuk. No no no, Darla. Kamu cupet sekali. Pikiranmu sempit sekali jika hanya melihat dari sisi selara kamu saja. Jadi, janganlah merasa sombong. Karena kau tahu, semua itu adalah relatif.

Jadi saya mohon. Sebelum kamu tertawa mengejek, cobalah pahami dulu isi jurnal saya ini. Sekali lagi ya, selera bukan patokan baku, semua itu adalah kenyamanan di hati masing-masing. Tidak bisa diseragamkan. Sebelum mencibir, mungkin sebaiknya kamu berpikir ulang, apakah pantas kamu mengeluarkan pendapat yang berasal dari pemikiran yang sempit, itu? Menurut saya, sih. Itu hanya mempermalukan dirimu sendirin, lho.

Okelah, haters. Selamat menikmati kebencianmu. Saran saya, cicipi pelan-pelan, rasakan benci itu dengan khidmat. Mungkin hati kamu bisa cepat membatu jika melakukannya dengan sepenuh hati.

Salam semanis gula-batok, dari Sarah.
(^_^)

Iklan

One thought on “Roman Picisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s