Menjimpit Air (2)

Esoknya kita berjumpa di sebuah kedai kopi. Kita duduk saling berhadapan di bagian sudut. Lelah tentu saja melukisi wajahku. Semalaman aku begitu gundah. Mataku nyalang tak bisa diajak lelap. Semalaman aku pun melampiaskan kegelisahan serupa benang kusut warna monokrom di sebuah kanvas.

“Apakah kamu baik-baik saja?” tanyamu heran.

“Oh iya. Pasti. Keadaan saya selalu baik seperti biasa,” jawabku sambil tersenyum manis. “Anyway, apakah saya sudah boleh mendapatkan jawaban? Saya hanya butuh kepastian,” ujarku memberondongnya.

“Baiklah. Mari kita jalani hubungan ini pelan-pelan,” jawabmu perlahan.

Kau tahu, saat itu, hatiku dilumuri bunga-bunga. Mereka dironce dengan menawan. Bahkan wewangiannya tercium samar oleh hidungku. Rasa girang itu, membuatku mampu melihat awan lebih putih. Langit semakin biru. Bintang lebih cemerlang. Bulan terlihat makin tampan. Burung-burung berceloteh makin riang. Aku senang. Racikan rasa hatiku saat itu, hanya terdiri dari kata: putih, manis, wangi, dan menyenangkan.

Beberapa hari kemudian, aku mengajakmu ke sebuah taman. Bukan lagi di depan danau buatan. Taman ini baru sekali kau singgahi. Sementara aku, telah belasan kali. Kau nampak tercengang dengan kencan yang kuciptakan. Kencan yang kurancang tidak wajar_ke mall, makan, nonton bioskop, jalan-jalan dibawah guyuran lampu halogen, dan diselimuti pendingin udara, lantas nongkrong di kafe setelahnya.

Aku ingin membuatmu terkesan. Aku ingin agar aku selalu dikenang. Aku ingin agar kau selalu mengingatku. Mungkin jauh disana, di balik tumpukkan oleh beragam pikiran dan persoalan, akal warasku berkata tentang selinting jujur: ah, ini hanya fana. Mungkin resonansi cintamu tidak segelombang dengan cintaku. Mungkin kamu hanya iba. Mungkin lusa aku akan dicampakkan. Olehkarenanya, aku ingin berkerak di kenanganmu.

Aku tahu, kamu lebih nyaman di ruangan sejuk ber-AC, tapi aku sungguh ingin mencari bukti kekhawatiranku. Apakah benar kamu hanya kasihan? Apakah kamu mencintaiku, sebesar aku mencintaimu? Aku yakin, jika kau mencintaiku, kau akan berusaha menikmati, meski kau rasa tak enak. Dan teoriku terbukti, kamu merasa kewalahan dengan kencan ini. Kamu tidak mencintaiku, sebesar cintaku padamu.

Kau berulang kali melap dahimu dengan handuk kecil warna biru toska. Keringat serupa air mata, menggenang di hidungmu. Namun, walau aku tahu kau tersiksa, aku terus saja duduk disana. Di bangku putih berukir yang telah berkarat dibeberapa tempat. Saat itu kita menatap warna langit yang berubah pelan-pelan. Menyaksikan lindap cahaya digantikan oleh remang. Minum sekotak teh dalam kemasan seharga tiga ribu lima ratus rupiah. Mendengarkan para bocah yang memekik-mekik girang. Kita saling bercerita kehidupan masing-masing. Kau dengan masa lalu dan keluargamu. Aku dengan impian-impianku.

Kencan kita di taman adalah pintu menuju serangkaian kencan selanjutnya. Namun, selalu saja itu adalah inisiatifku. Kadang, aku berpikir, aku seperti mengejar layang-layang. Berlari dan mendongak sampai leherku pegal, namun kamu tetap saja tak tersentuh. Kau tidak mau menghampiriku, jika bukan aku yang mendatangimu. Kau selalu terbang ditenteng angin. Bahkan, kau selalu terlihat lebih jauh daripada dulu saat kita masih sebagai kenalan biasa.

Aku mulai merasa lelah. Namun, entah, aku belum bisa memutuskan. Apakah semua ini sepadan?

(Bersambung)

Iklan

4 thoughts on “Menjimpit Air (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s