Gigi Yang Tabrakan

ImageImage

Saya rasa, hidup saya ini memang diwarnai, hmm, lebih tepatnya, kental dengan aroma drama dan memaksakan diri. Jika saya mengabsennya satu persatu, bisa pegal mata anda-anda sekalian menyimak cerita saya. Mungkin lain kali aje, ye,  jika suasana hati saya sedang tralala-trilili, atau saat sang semangat-menulis  berlari kencang di kepala dan juga jari, saya akan ngemeng di jurnal ini secara konsisten, seperti dahulu, ketika saya masih tercatat sebagai penduduk multiply.

 

Nah, sekarang, salah dua yang ingin saya bagi di mari adalah, pengalaman saat saya memaksakan diri untuk mengoperasi  gigi bungsu. Jadi begini ceritanya. Dulu, di tahun 2007, saat saya hamil anak pertama, asli rasanya seperti sedang diospek oleh keadaan. Jadi , ya, selain saya kudu  berjibaku melawan mual muntah yang Masyaallah…Ajib bener rasanya, saya juga harus MENDERITA double, karena gigi bungsu saya numbuh sodara-sodara plus pake tabrakan dengan gigi sebelahnya. Jadi, bukan hanya mobil/motor  yang demen tubruk-tubrukan, bahkan gigi pun suka.

 

Terus, ya, saat itu, jangankan untuk hidup normal, bahkan membuka mulut pun saya tak mampu. Jadi terpaksa deh, saya makan pake sedotan. Jadi semua makanan harus saya blender dulu.  Hah, jangan tanya rasanya apa? Pokoknya saya kapok pok pok pok. #Pake efek echo.

 

Gara-gara gigi cenat-cenut, lumayan, Cuy, berat badan saya terjun bebas sekitar 2 kg, untungnya sedang hamil muda, jadi tidak terlalu was-was lah. Singkat kata, saya itu bener-bener menderita lahir bathin. Lagi hamil, minum obat aja serba salah, eh gigi pake acara ngajak berantem pula.

 

Saya kira, si gigi cukup sampai di sana menyiksa saya. Eh kok, ya, tahun 2008, saat saya hamil anak kedua, si gigi cari gara-gara maning. Ugh, saya bener-bener dendam. Saya bertekad, setelah melahirkan saya akan segera membunuhnya. Hah.

 

Berbekal dendam yang menggelegak (pret) di dada, sebulan setelah Radinka dilahirkan, sambil menenteng bayi merah, saya bergegas ke Ladokgi RSAL yang letaknya dekat, sepelemparan gundu saja. Saya pun diperiksa, dirongent, lantas menentukan jadwal operasi dengan dokter gigi spesialis bedah. Biaya operasi 2 gigi, di rahang kiri, sekitar Rp.3 juta. Namun, paska operasi saya mengalami pendarahan yang nyaris membuat saya pingsan, dan ngilunya operasi berasa bener, sungguh membuat saya sedikit ogah jika harus operasi lagi gigi bungsu di rahang kanan yang masih nongkrong cantik di tempatnya semula.

 

Butuh waktu 2 tahun bagi saya untuk menumbuhkan keberanian untuk mengoperasi gigi. Tahun 2011, saya mengantar my ex MIL, ke RSGM UI, eh kok, ya, saya kepincut. Maka di sanalah saya berkonsultasi dengan dokter yang sepertinya masih berstatus koas, namun entah mengapa saya malah mempercayakan gigi geligi ini pada beliau-beliau ini.

 

Di suatu pagi yang cemerlang, saya pun bersepakat membuat janji dengan sang ko-as yang masih kinyis-kinyis itu. Sejujurnya saya gelisah. Baru mendengar suara bor saya, jantung saya sudah jatuh ke lantai. Lantas, bagaimanakah operasinya?

(bersambung)

 

P.S: Foto di sekitar RSGM.

 

 

 

 

 

 

                         

 

Iklan

3 thoughts on “Gigi Yang Tabrakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s