Single Parent

  Prinsip mendidik anak bagi saya adalah :

1. Menunjukkan bahwa ada hal yang baik dikerjakan namun juga,

2. Mengarahkan bahwa ada hal buruk yang wajib dilempar sejauh-jauhnya.

 

Perwujudannya adalah dengan memberi rewards jika krucils melakukan point satu, dan menjatuhkan punishment jika krucils mengerjakan point nomor dua.

 

 Rewards/hadiah berupa: pujian, perhatian, dongeng, makanan/barang favorit, bernyanyi bersama-sama, bermain barengan, berjalan-jalan, dan hal-hal yang edun lainnya.

 

 Punishment/hukuman dalam bentuk:

  1.  Hukuman ringan (ditegur)
  2.  Hukuman sedang (di pojok hukuman, diam selama 10 menit atau tidak diberikan/dibelikan barang-barang yang diinginkan)
  3. Hukuman berat (dikeluarkan dari rumah atau dikurung)

 

Sebisa mungkin menghindari bentakkan atau berteriak dan menjauhi hukuman  fisik. Sulit sekali, Cuy. Yang mana kesabaran akika  diuji sedemikian dahsyatnya. Jika mood sedang tengkurap, tak jarang sering terpancing untuk melakukan hal-hal yang  TERLARANG. Padahal, dengan berkata tegas pun sudah cukup membuat anak mengerti. Tegas atau konsisten dengan mengatakan NO IS NO. Dalam kalimat lain, bahwa jika telah mengatakan tidak, maka tidak bisa ditawar dengan rengekkan, amukkan, tangisan atau rayuan dangdut.

 

Sampai saat ini saya masih jatuh bangun untuk mewujudkan cara didik ideal itu, namun sebisa mungkin tetap konsisten. Jika saya kuat dan keukeuh berada di koridor yang tepat, saya yakin anak-anak akan tumbuh menjadi manusia dengan karakter kuat dan bertanggungjawab.

 

Namun, eng-ing-eng, kesalahan fatal saya adalah dari krucils periode 0 bulan sampai dengan desember 2012, saya menyuguhkan adegan kekerasan di depan mereka. Maka, sia-sialah sudah apa yang saya terapkan. Bagaimanapun, ya, Cuy, contoh perbuatan jauh lebih menempel dan akan ditiru. Mereka terbiasa melihat dan mendengar cacian, makian bahkan kekerasan fisik tertatokan di ingatan mereka. Kelakuan saya itu seperti membasahi daun talas, tidak berbekas. Yang ada adalah goresan silet di daun talas, air versus silet, sudah bisa dipastikan si silet adalah juaranya.

 

Meski, jauh-jauh sebelum hari ini tiba. Saya meyakini sebuah prinsip bahwa menjadi ibu itu harus kuat segala-galanya. Kehamilan yang melelahkan, kelahiran yang menyakitkan dan juga periode menyusui yang merupakan pen-jumlah-an atara kelelahan + kesakitan = menjadi tahan banting. Seorang ibu harus mempunyai mood yang stabil, karena kepayahan mental berlarut-larut akan menular pada anak. Gelisah terus-terusan akan menjangkiti anak. Sedih ora uwis-uwis akan menyakiti anak. Apalagi amarah tiada pernah usai akan membuat “sesak” anak.  Oleh karena itu, meski sesakit apapun saya akan menampilkan sisi ceria di depan anak. Dan juga sisi riang gembira hore-hore di hadapan orang lain. Namun, tentu saja, suatu penyakit, sepintar apapun kita menyembunyikan lama-lama akan menyakiti. Seharusnya saya mengobatinya, bukan menutup-nutupinya.

 

Tadi pagi, saya melihat Radinka membawa-bawa sendok makan dan memukul kakaknya menggunakan sendok itu, plus, menjambak rambut kriwil kakaknya. Saya marah. Sangat marah. Saya meminta dia untuk menghentikan pukulannya, tetapi, ia tetap saja bersikeras. Akhirnya saya angkat dan saya beri punishment terberat, yakni mengurungnya di kamar tidur. Lima belas menit kemudian, setelah saya menenangkan diri, dan tangisannya mereda, sambil memeluknya saya bertanya. “Apakah Adek ngerti, kenapa bunda hukum?”

 

Dengan terbata-bata, ia mengakui sendiri kesalahannya dan berjanji tidak akan begitu lagi. Lantas Radinka menghampiri Zena, kemudian memeluknya sambil meminta maaf.

 

 

Fiuh.

 

Timbul tanda tanya yang dilontar-lontarkan di kepala. Apakah sikap kasar Radinka disebabkan karena ia merekam semua kekerasan yang dicekokki di depan matanya? Apakah keputusan saya untuk menjadi single mom ini sudah ciamik? Apakah keputusan ini sudah menjadi tindakan terbaik untuk semua pihak? Jika telah tiba di pertanyaan itu, muncullah penyesalan. Mengapa saya membiarkan Zena dan Radinka selama bertahun-tahun tersakiti karena melihat pemandangan yang mencolok mata dan merusak mental? Mengapa saya tega menyakiti semua: pelaku, saya dan juga anak-anak? Dengan membiarkan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku, seolah-olah saya sengaja membiarkan kami semua dijangkiti perasaan tidak nyaman selama ratusan ribu menit a.k.a bertahun-tahun. Saya begitu egois, hanya demi kenyamanan status dan keamanan financial saya mengabaikan penganiayaan secara fisik dan psikis yang kehadirannya seperti meminum obat bagi orang sakit.

 

Lantas timbul lagi pertanyaan, dengan cara apa saya menebus kesalahan ini? Saya belum tahu.

 

 

Namun, Tuhan, saya tahu, bahwa untuk menjadi manusia telah sebegitu beratnya. Tanpa tanggungjawab dan komitmen, buat apalah menjadi manusia? Apalah bedanya dengan ayam? Olehkarena itu, berilah kesadaran terus-menerus kepada saya untuk bertanggungjawab terhadap apapun.

 

Mendidik anak itu sulit-sulit gampang. Apalagi saya, seorang single parent. Sering sekali saya merasa takut, jika saya salah mendidik.

 

Meski, sekarang,  sejujurnya perasaan saya sangat lebih baik dibandingkan bulan desember 2012, atau bulan desember 2011, atau bulan desember 2007, bulan dimana saya berjanji mengemban sebuah pernikahan yang dari  awal segebitu aduhai terjal-nya. Januari 2013, MUDAH-MUDAHAN saya telah mengambil keputusan terbaik untuk pelaku (lelaki yang PERNAH sangat saya cintai), terbaik untuk saya, dan tentunya untuk anak-anak. Dengan memutuskan untuk berhenti menjadi mimpi buruk bagi semua.

 

Single parent, tentu sangat sulit. Saya harus membanting-banting tulang, harus berperan  ganda: sebagai ayah atau bunda, harus seimbang segala-galanya. Namun saya yakin, menjadi single parent jauh lebih baik daripada membiarkan rumah yang busuk. Demikian kelas dewa,  kerusakan yang ditimbulkan oleh “rumah” yang sakit,  oleh karena itu, inilah sebagai salah satu bentuk tanggungjawab saya selaku manusia. Saya memohon kepada Engkau, Tuhan, selalu menguatkan kami.

 

P.S: Krucils, maafkan bunda. Bunda berjanji akan menyiapkan “rumah” yang nyaman dan juga hangat. Tempat dimana kita akan merasa segala beban hidup akan meluruh dan melantak ketika kita tiba di “rumah”.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s