Harus Berpisah

Harus berpisah dengan krucils, pastilah sangat berat, dan berasa terjerembab dalam goa  jahanam. Meski teorinya, gue masih satu kota, gue masih bisa nengok kapanpun gue mau, gue bisa jalan-jalan sama krucils kemanapun gue suka. Tapi, kenyataannya, gue mesti menetralisir perasaan-perasaan tak senonoh terhadap my ex dan keluarganya. Begitu pula dengan mantan, dia pun berusaha berdamai dengan dirinya sendiri. Itulah kenapa gue masih menjaga jarak.

 Teorinya, mereka pengen gue tetep tinggal seatap sama mereka, meskipun status kami bukan lagi suami-istri, sehingga kami masih bisa mengurus krucils bersama-sama. Tapi praktiknya, gue merasa insecure dan tidak nyaman, so gue memilih untuk ngekos.

 Teorinya, gue bisa nelpon atau skype-an sesuka hati gue, praktiknya, orang yang jadi penghubung antara gue dan krucils, seringkali enggak di rumah. Tetapi, good newsnya, krucils tetaplah jadi anak yang ceria dan mereka baik-baik aja. Justru lebih hepi, dibandingkan saat emak-bapakke masih serumah tapi tiap hari baku hantam melulu. Krucils tidak gampang sakit, beda dengan zaman dulu, yang nyaris setiap bulan bengek. Gue tidak menyesal dengan keputusan ini, karena itulah yang terbaik untuk kami. Jadi, tolong jangan hakimi hidup gue dan pilihan hidup gue.

 Ini hidup gue. Dan gue nggak bikin elo rempong, kan? Gue nggak nangis-nangis, ganggu waktu elo setiap hari? Gue terlihat masih hepi tralala dengan masih melemparkan jokes-jokes di twitter. Berat badan gue pun naik dengan semena-mana karena KONON itu pertanda bahwa gue bahagia. Di penampakan luar gue terlihat sangat teope begete, meski ini adalah hal yang sangat berat untuk mayoritas manusia. Beda kalo gue babon atau tapir yang gak punya akal, mungkin perpisahan ini tidak akan menyiksa. Nah itu yang jadi pertanyaan mereka, gue masih punya akal gak sih? Kalo iya, kok bisa gue masih terlihat biasa-biasa saja?

 Yaa iyalah biasa-biasa aja. Emangnya gue musti luar binasa (baca: depresi)? Dan itulah, karena gue terlihat VERY FINE, orang-orang jadi berkata diluar batas. Dan sialnya, statement yang menonjok hati itu terlontar dari orang-orang yang enggak terlalu deket sama gue. Sok tau sekali, deh. Bahkan ada yang menakut-nakuti gue seperempat mengancam. “Ntar, saat elo udah tua, dan elo butuh deket sama anak lo, elo akan sangat menyesal dengan keputusan elo saat ini. Sekarang mungkin gak berasa, karena elo masih muda. Tapi nanti?!”

 Nanti ataupun sekarang, bagi gue sama aja. FYI, saat gue udah ambil keputusan, artinya  gue udah siap terima segala risikonya, dan selama ini gue tidak pernah menyesal dengan segala keputusan yang gue buat, jika keputusan itu mengikuti kata hati gue. So, just enough dengan kalimat-kalimat sotoy yang dahsyatnya bisa mencangkul kepala gue.

 Hm, ini kepala gue, ini hidup gue, dan biarlah gue telen semuanya, manis ataupun getirnya. Nggak pernah gue umbar kan, gimana rasanya harus berjauhan dengan orang-orang yang selama ini jadi pusat kehidupan gue? Nggak pernah gue ceritakan, kan, BERAPA gentong air mata yang gue teteskan karena kangen luar biasa? Nggak pernah gue jabarkan, saat gue down dan merasa pengen ambil pisau dan mengamputasi leher? Nggak pernah gue ceritakan, kan, gimana tersayatnya hati gue saat baca cerita-cerita tentang anak-anak balita dari mamah muda-mamah muda lain? Gue nggak mau ngeluh. Nggak mau cerita gue menjadi beban bagi kalian, yang hidupnya pun MUNGKIN  udah bikin ngelus dada.  

 I  will survive. I’m pretty tough. I have never felt so comfortable like this. It’s the best decision of my life.

 Yakin, Sar, elo bisa bertahan?

 Bertahan itu fardhu ain hukumnya. Dan dengan keyakinan serupa itu, saat ini gue masih bisa bertahan. Banyak juga sih yang nanya, bagaimana gue bisa menghadapi semua ini? Tipsnya adalah, jreng-jreng…gue cukup dengan menuliskan segala rasa negatif itu, jika perlu sambil nangis-nangis bombay, mewek turki, cirambay bojong soang apapunlah. Tetapi, gue batesin rasa damn things itu  paling banter 10 menit. Gue meratap-ratap, setelah itu biasa lagi. Pokoknya, gue nggak mau berlarut-larut. Gue sayang sama diri gue. Well, hidup cuma sekali, Cin. Gue nggak mau ngisi dengan hal sia-sia, ngisi dengan penyesalan dan atau tangisan menyayat genteng.

 Satu lagi. Gue menjadikan segala masalah dan rasa sakit ini sebagai motivasi buat gue maju. Bukan hanya secara materi, tapi juga maju dalam hal berpikir dan menghadapi masalah. Gue ingin menjadi pribadi tangguh yang tetep tersenyum meski dilindes truk berisi kotoran dari jamban.

 Terakhir, gue sedang berusaha membanting-banting tulang, sehingga suatu saat nanti krucils ingin tinggal sama gue, gue pasti udah siap. Gue yakin, suatu saat nanti, cepat ataupun lambat akan tiba saat-saat indah, dimana gue bisa berkumpul dengan anak-anak, yang di tubuhnya mengalir darah dan DNA gue. Saat itu pasti akan datang. PASTI!

 Mwuuuuaaaaaaaah. Meaooow.  

     

Iklan

4 thoughts on “Harus Berpisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s