Menjadi Anak Kos (1)

Hola! Selamat malam! Sembari ngejer-ngejer target, dan dengerin Maliq and d’essential dengan hitsnya Dia, gue mau memanggil memori gue. Salah satunya adalah tentang menjadi anak kos.

Tiga belas tahun yang lalu, gue resmi menyandang status sebagai anak kos di Depok. Tetapi, gue kurang enjoy dengan situasi saat itu, karena gue ngebet kuliah di Bandung. Apalagi, kursi cantik di Unpad berhasil gue sabet pas UMPTN, sengaja gue milih jurusan yang PIG (Pass In Grade) nya rendah asal bisa menclok di Unpad. Ya,  memang, jurusan abal-abal, tapi kan yang penting di Bandung. Asumsi gue saat itu, gue harus tetep bisa ngekos di daerah Dipati Ukur, sehingga gue tidak berpisah dengan sohib-sohib saat SMA.

SMA kelas tiga adalah saat yang fun, karena kakak gue yang selama ini jadi bodyguard, tiba-tiba harus melepas gue begitu aja, karena doski harus meneruskan kuliah di Depok, cencunya, gue bagaikan soang lepas dari kandang. Tiap hari madol di kantin bareng temen segengsta. Nah, ikrar di kantin inilah yang menyebabkan gue bertekad kuliah bareng-bareng mereka, apapun yang terjadi.

Terjadilah malam biadab itu. Dimana, segala trik dan intrik gue kerahkan di hadapan paduka yang mulia (emak dan babeh), namun, tetap saja gue dilarang kuliah di Bandung. Pertimbangannya adalah track record gue yang kurang ciamik, saat SMA kelas 3, dan saat tergabung dengan grup Qrey, yang mana gue sering banget bokisin ortu, ngemplangin duit SPP dan sebagai-bagainya demi bisa hang out sama temen-temen. Belom lagi izin-izin palsu, bilang mau study tour, eh gue malah kemping di Ranca Upas. Bokap gue khawatir kebandelan gue semakin liar, apalagi gue anak perempuan the only one, dan kakak2 gue yang 4 ekor itu semuanya (pasti)  para pria.

Pria yang berstatus kakak itu masih juga dianggap belum cukup untuk mengawasi gue, maka pas gue mulai kuliah di tahun 2000, bokap ngasih Ericson, dengan tujuan agar keberadaan gue bisa dipantau selama 24 jem. Bokap sadar sesadar-sadarnya bahwa gue adalah tipe anak rebel, dan jika ekor gue tidak dipegang erat-erat maka gue akan mencelat ke sana ke sini.

Sini-siniannya, gue mulai betah ngekos di Depok, karena mampu membikin rusuh kosan dengan menggalang  dan mendirikan sekte sesat:  sekte kece: kaum pemanjat pagar. Ya, lagian, jam 10 pager setinggi 2,5 meter itu udah dikunci aje. Padahal, gairah muda kan sedang menggelegak. Gue paling seneng nongkrong di warung indomie Ceu-ceu, yang gorengan bakwan dan tahu isinya paling endes sejagat raya. Ya, mangap-mangap aja kalo kami udah kayak bedhes (monyet) yang nyaris tiap malem manjatin pager bak maling. Masih belum puas melanggar jam malem, gue dan temen-temen juga disinyalir sebagai pembuat gaduh.

Gaduh itu relatif ya, Cin. Menurut gue, sih, wajar lho, jika cewek-cewek ngumpul terus cekikikan, atau main pijit-pijitan, atau curhat kesana-kemari sambil ketawa tengah malem, karena ada aja lelucon konyol yang terdengar. Meski, memang, kos saya itu mayoritas diisi oleh anak fakultas ekonomi dan MIPA yang sangat suka belajar, manis-manis, alim-alim dan calon istri-istri sholeha.

Sholeha jelas jauh dari predikat gue, karena  gue sering kelojotan kalo mendengar murrotal  atau orang ngaji, dan gue lebih khusyuk saat menonton musik kampus malah sampe lupa diri. Sialnya, sejak “sekte-kece” berdiri, yang personilnya terdiri atas perwakilan di setiap fakultas: farmasi (2 orang), FISIP (1), FE (1), FH (1), dan poltek (1), kami sering mendapatkan tatapan membunuh dari penjaga kos. Ya, maklum aja, sik, selain sering memanjat pagar, sering membikin bising, kami juga sering pulang pagi, bahkan saking gedegnya penjaga kos, kami pernah dikunciin di teras. Padahal biasanya kamar tamu selalu terbuka lebar. Alhasil, sejak malam itu kami terbiasa tidur di kursi teras dibalut angin malem. Huft.

Malem itu adalah puncaknya, yakni saat kami membawa teman-teman segerobak, yang mana, mereka  ogah dipulangin ke habitatnya masing-masing padahal udah jam 10 malem. Akibatnya, bukan hanya pelototan yang kami terima, tapi juga omelan yang panjaaaaaaaaaang dan lama.

Lama-kelamaan gue sadar bahwa gue gak bisa lagi ngekos di situ, karena aturan yang terlalu kaku. Tahun 2004, gue pindah ke Kober. Nah, gue kira kerusuhan sampe di situ saja. Ternyata, temen-temen tadi, memilih untuk mengikuti jejak gue, akhirnya, kami pun ramai-ramai bedol desa. Haish. Bikin heboh di tempat baru lagi, deh. Sigh.

(bersambung)

Iklan

7 thoughts on “Menjadi Anak Kos (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s