I Won’t Give Up

Gue sadar gue adalah tipe orang ndableg, naïf dan sering memaksakan kehendak sendiri. Gue selalu saja berlari mengejar apa yang gue inginkan. Dan seberapa besar halangan itu, gue tidak menyerah sampai gue dapetin apa yang gue pengen atau sampai gue berkata: SUDAH! ENOUGH IS ENOUGH!

Dalam hidup ini, gak ada hal lain yang gue inginkan selain menciptakan sesuatu. Ok. Terdengar terlalu general. Gue pengen bisa menulis dengan baik. Melahirkan tulisan fiksi. Membuat film.  Intinya adalah menulis kreatif. ( Lagu, cerpen, novel, naskah film)

Tetapi, semua itu gak mudah.

Dulu masalahnya adalah waktu dan izin suami. Segala macam laptop dan alat yang bisa gue pake buat nulis, dia sita. Tujuan dia sih katanya biar gue fokus urus anak. Ok, tapi gue tetep ngotot, gue nggak menyerah, gue nggak bisa hidup tanpa nulis. Gue istri durhaka? Gue ketawa ngakak aja. Monggo lho kalau kalian mau menghakimi. Bebas. Ok, tapi itu masalalu dan gue sudah melewatinya.

Sekarang masalahnya adalah terus melangkah setelah jatuh (kirim lagi meski abis ditolak), mencari uang dan juga ngatur rasa kangen pada krucils serta rasa mengobati rasa kehilangan krucils.

Dulu, saat gue harus licik terhadap waktu, cara mengaturnya adalah gue urus krucils dari mereka bangun sampai mereka tidur. Dan gue menulis saat lakik enggak ada. Gue mengorbankan waktu istirahat gue, dan didetik-detik terakhir pernikahan gue, gue udah jarang banget ikut krucils dan keluarga ke Mall, karena gue lebih seneng kencan dengan aksara. Dan gue sangat hepi. Gue bisa deket krucils dan juga nyuri-nyuri menulis, even di akhir, buku tempat gue nulis novel dirobek suami, but that’s ok. Gak diizinkan pake laptop juga bikin gue tricky, gue apply credit card, dan gue beli leptop dari CC atas nama gue sendiri. Meski belinya nyicil sih. Dan cicilannya sampe sekarang belum kelar, tapi gak masalah, ini namanya perjuangan.

Terus saat gue berpisah dengan suami, apakah gue sekonyong-konyong bisa mewujudkan mimpi gue? Ternyata enggak. Masalahnya justru lebih besar. Ada harga mahal yang harus gue tebus. Berpisah dengan krucils, meski gue yakin ini cuma sementara, tapi gue musti bisa menghalau rasa kehilangan berpisah dengan krucils, atau tidak membiarkan diri gue berlarut-larut sedih karena kangen krucils. Belum lagi masalah duit dan meski sekarang gue udah mulai naik step yakni mulai mengirimkan cerpen ke majalah dan ditolak, tapi gue tetap kirim lagi sih dengan judul dan tema yang berbeda. Gue juga nulis sinopsis FTV ke stasiun TV, tapi ada halangannya, kadang, gue terlalu keras kepala dan idealis, sehingga gak ngikutin pakem televisi dan berkali-kali ditolak. Kalo mau bikin sesuai mau gue, bikin indi aja. Yang bloon siapa? Gue sendiri.

Yang gue inget adalah saat gue mengirimkan 10 judul, semuanya ditolak, hari kedua gue kirim lagi 10 judul, ditolak lagi, hari ketiga gue kirim 30 judul, akhirnya diterima 9 judul. Jadi total 50 judul yang gue ajukan dan hanya diterima 9. Manis banget. Gue diminta bikin 9 premis dari judul itu, dan sampe saat ini belum ada kabar. Biasanya mereka akan ngasih masukan untuk revisi dan sekarang enggak dong. But that’s ok. Gue akan revisi sendiri dan gue kirim lagi, sampai mereka akan ngasih sinyal gue meneruskan membuat sinopsisnya.

Mungkin hidup gue tidaklah berat. Masalah-masalah gue bisa dikategorikan stadium satu. Tapi tetep aja, gue merasa ngos-ngosan menghadapinya. Tetapi ada dua hal yang gue pegang:

1.       Terus berpikir positif terhadap apapun, anggap masalah itu sebagai tantangan.

2.       Tidak menyerah, introspeksi diri, memperbaiki kesalahan, dan saat jatuh, gue bangun lagi.

Dan ternyata hidup ini lebih menyenangkan dan terasa lebih ringan saat gue pegang 2 hal itu tadi. Hidup itu adalah pilihan, dan gue memilih untuk menggapai mimpi gue, apapun kendalanya.

How is your life, Dud?

Iklan

6 thoughts on “I Won’t Give Up

  1. Hidup gue kek poco-poco, maju selangkah mundur lagi dua langkah. Iye gue kejebak disebuah kantor negara yang dimana ini bukan passion gue, karir gue mentok dan gaji gue ngepas. Gue tertarik banget sama desain grafis, tapi gue ngga punya media buat “muntahin” ide. Tapi yaudah sih, sejauh ini yang bisa gue lakuin cuma cengir-cengir. Yaa se-enggaknya dengan gue cengir-cengir, hidup gue ngga makin mundur. Dan mungkin ada produser khilaf yang ngajakin main FTV setelah ngliat gue nyengir, mungkin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s