Menjadi Anak Kos ( Mencoba Kamar yang Beda)

Image

Akhir-akhir ini gue sering memutuskan segala sesuatu berdasarkan kata hati. Saat mencari kos-kosan pun gue akhirnya memilih kos yang sekarang, karena hati gue bilang kos itu tepat buat gue. Kosannya sih biasa aja, malah ini kos campur (cowok dan cewek). Tapi atmosfernya membuat gue nyaman. Dan terbukti memang benar. Sejauh ini gue merasa cukup betah dengan fasilitas internet, jam malam yang fleksibel, penjaga kos yang asik, dan tentunya para penghuninya yang smart dan baik hati.

Gue sih sebenernya udah nyaman dengan kamar kos yang sekarang. Tapi, sejak di kamar ini gue sering batuk. Asumsi gue adalah gue alergi debu atau memang sirkulasi udara dalam kamar yang jelek. Kamar gue itu ada di lantai dua. Jendela menghadap ke teras, teras langsung “menatap” ke taman yang ada di bawah.

Dan sebetulnya gue jatuh cinta pada sebuah kamar mungil di pojokan yang terdiri dari dua jendela. Jendela langsing itu menghadap kebun. Di dalam kebun tertancap sebatang pohon palem botol dan pohon mangga. Lantas mengapa gue enggak memilih kamar itu? Soalnya, kamarnya imut bener, Cuy. Takut aja ntar gue mati gaya dalam situ. Kan niatnya mau sikap lilin atau goler-goler asoy.

Tapi, gue nggak akan pernah tau akan nyaman atau tidak kalau gue enggak nyoba. Maka, gue pun memaksakan diri untuk PINDAH.

Agak mengenaskan kondisinya, karena kamar ini memang tidak pernah ada peminatnya mengingat ukuran yang imut. Tapi, bukan hidup namanya kalo enggak ada halangan, betul? Gue pun keukeuh try error dulu deh. Pertama, gue ceki-ceki sambungan internet, apakah sip? Ternyata: CIAMIK. Lampu? Jiaaaah, enggak ada. Tapi, tak masalah, gue bisa manjat lemari kamar yang lama dan gue puter, gue copot lantas gue pindahin si lampu ke kamar baru. Ya, meski gemeteran tapi kelar. Kemudian, kasur gue gondol dari kamar gue yang lama. Dan di kamar ini gue memutuskan untuk tidak memakai meja belajar. Kebayang kalo ditambah meja, pasti sesek.

Karena barang gue sedikit, proses bedol kamar lebih smooth. Dan, setelah dipikir-pikir serta dirasa-rasa, ternyata gue emang betah di kamar baru. Meski mungil, oksigen segar dari kebun itu: PRICELESS

Kesimpulan; gue memang harus berani mencoba apa yang sebelumnya tidak pernah berani gue lakukan. Gue nggak akan pernah tau apakah itu yang terbaik buat gue atau bukan kalau gue nggak berani nyemplung langsung.

Anyway, if you dare to try something new and let go of the comfort zone?

Note: gambar 1 dari http://hiasanrumah.files.wordpress.com/2011/11/kamar-sempit-1.jpg

Iklan

12 thoughts on “Menjadi Anak Kos ( Mencoba Kamar yang Beda)

  1. Yakin nih tadinya kamarnya kurang diminati orang cuma karena ukurannya yang mungil? Siapa tau ada sebab lain, misalnya karena ‘penghuni’ pohon mangganya suka mampir kalo malem, bhihihihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s