In Desperate Journey (Cerpen)

Image

Aku duduk mencangklong di sebuah bangku panjang di daerah Antah Berantah, menyesap air kelapa muda langsung dari batoknya yang kemahalan, lantas mataku memanah dan menatap orang-orang bertelanjang dada berlalu-lalang di jalanan yang panas terpanggang matahari. Beberapa orang mengipasi tubuhnya dengan kipas kertas, yang lain memandang etalase-etalase kios yang semarak dan semerbak. Becak berwarna merah memar menerobos para pejalan kaki, tidak dengan terburu-buru, melainkan dengan santai dan tanpa huru-hara, seolah-olah becak itu sendiri sedang ikut menikmati pemandangan yang serba mengilap.

Aku sebetulnya kebetulan saja tiba di sini. Aku ingin melupakan penat yang beberapa bulan ini mencakar kenyamananku. Aku ingin menjelajahi setiap lekuk hati dan kalimat yang bergema dari sana, meresapi dengan sebenar-benarnya tanpa tendensi apa-apa. Apakah kini ku telah memungut jawabannya? Belum. Aku masih meraba-raba. Tapi, santai saja, hidungku sedang berusaha menghidu aroma kebenaran. Sudah tercium? Sayangnya, belum juga.

Belum juga 24 jam aku meninggalkan kota metropolitan, namun aku sudah dicengkram migren. Karena apa? Karena wajahmu berdansa di pelupuk mata. Ratusan ribu detik telah kita lewati. Jutaan aksara yang dilempar-lempar lantas ditangkap telah kita kunyah baik-baik. Milyaran kalimat menggemaskan yang dironce dari bibir kita telah menguap. Dan kau tahu, semuanya tampak seperti delusi. Benarkah kita pernah bertemu lantas menjalin hubungan istimewa? Benarkah hati kita pernah saling mengancing? Jika iya, mengapa semuanya serba mengapung?

Seorang Mamah Muda melintas dan menebarkan aroma parfum yang menyengat, membuat hidungku mengernyit. Aku sungguh berharap kamu ada di sini. KIta pasti akan duduk bersisian, memperhatikan berbagai spesies bernama manusia, menyodok kakiku untuk menunjukkan laki-laki berperut buncit dengan kalung emas sedang merayu remaja tanggung di sebelah barat daya, kamu pasti akan mengulum senyum, dan membuatku ikut tersenyum juga, lantas aku tak kuat menahan diri untuk tidak terbahak. Iya, suara tawaku akan mengigit udara. Dan kau berusaha menenangkan diriku yang kegelian sampai bersujud.

Tanpa sadar aku meraba kartu pos di saku kemeja yang kebesaran. Aku telah membelikan kartu pos di salah satu kios yang kumasuki tadi dengan perasaan gamang. Kartu pos bergambar monyet dan pohon nyiur dengan seuntai kalimat lapuk yang sudah terlalu klise. Aku sebenarnya tidak berencana membeli sesuatu_tapi saat mataku tak bisa berpaling dari kartu pos, seolah si kartu menggantung di kelopak mata_ mendadak aku membayangkan matamu yang berbinar dan senyummu yang ramping tapi memanjang, akan menunjukkan suasana hatimu yang telah kubuat warna-warni, dan aku berharap hubungan kita bisa mulus kembali. Kemarahan yang kita timbun dan kira erami, akan memudar. Ah, mungkin aku terlalu mengandai-andai. Benakku terlalu berpikiran cantik. Harus kutatokan dalam kepala, kemarin  kau berkata. “KIta udahan!”

Aku memejamkan mata dan memijit dahi. Aku ingin berbaikan; ingin membikin hubungan kita semenarik lolipop. Kehadiranku yang tidak diinginkan keluargamu, telah mendesak kita menjadi tertekan. Sangat tertekan. KIta seolah berjalan saling memunggungi. Aku ke utara, dan engkau ke selatan. Bagai medan magnet dengan kutub yang sama, yang selalu saling menolak. Semestinya aku sudah bisa memprediksi ini dari titik nol kita berjumpa. Harusnya aku menolak untuk jatuh cinta padamu. Sebaiknya aku tidak mabuk dan tergila-gila olehmu. Kebanyakkan orang waras akan begitu. Mereka pasti akan mundur teratur. Tidak keras kepala dan pekok sepertiku.

Dan, kau menggandeng wanita itu, aku tertawa jahil dalam hati. Sialnya, engkau bisa menangkap seringai jenaka di mataku. Oleh karenanya kau menjadi salah tingkah. Dengar, aku tipe orang yang tidak pernah menengok ke belakang. Kau tahu itu dengan gamblang. Kini, kau masih berada di sampingku. Engkau belum kutinggalkan. Sekarang, pilihan ada di tanganmu. Ingin mendekapku lantas mempertahankanku bergeming di sisimu? Atau membiarkan aku melangkah dan kau akan tertinggal di masa lalu? Aku harap, kau membuat keputusan yang sepadan. Demi kebaikanmu sendiri. Itu saja.

Tenanglah. Aku menunggumu di tempat biasa kita berjumpa. Sampai bintang kejora berhenti mengedip genit. (bersambung)

Iklan

9 thoughts on “In Desperate Journey (Cerpen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s