About Something

Image

Gue tebas gambar ini dari sini. Dan sengaja pilih gambar itu biar keliatan unyu-unyu padahal mah kalian udah tau kan aslinya: gue udah tue bangke.

Jadi begini. Sejak gue membaca jurnal ini. Gue jadi memikirkan banyak hal. Terutama adalah kegagalan-kegagalan gue. Pendek kalimat, beberapa bulan ke belakang hidup gue itu bagai naik bajaj, bergoyang tiada henti. Rasanya, pengen segera menaikki Renault (cetek banget pengennya) yang saat berada di atasnya serasa sedang leyeh-leyeh di atas sofa kulit seharga duaratuslimapuluhjuta (dangkal mimpi gue, ya?), dan tidak harus bergetar. Dengan kata lain  hidup nyaman, tidak harus capek.

TETAPI, apa enaknya hidup dengan mengandalkan orang lain?

Gue manusia. Gue punya tangan, kaki dan otak yang bisa diperas. Lantas, mengapa harus berdiam diri?

Berlandaskan pemikiran yang terus membiang di kepala, gue pun mencoba berpikir simpel. Cari kerjaan untuk makan hari ini. Thats all. Lupakan segala gengsi, harga diri, atau martabat telor spesial, gue nggak makan gengsi, gue makan mengkudu, sengon, rumput gajah, rumput teki, dan segala macam rerumputan. (Lha kok serupa kebo?). Gue ambil segala macam pekerjaan yang sekiranya bisa gue kerjakan meski, menurut orang tidak layak dengan ijazah yang gue punya. Ya, kan yang penting perut ane enggak kruyuk-kruyuk. Nungguin dipanggil sebuah PT, atau nungguin novel dikelarkan dengan segera lantas diacc penerbit, atau nunggu sinopsis gue segera dieksekusi jadi sebuah tayangan televisi adalah: USELESS. Gue kerjain apa yang seharusnya dikerjakan sembari berusaha menggenggam mimpi.

Bagai menunggu pucuk daun melayang jatuh, meski gue yakin si daun pasti akan tanggal, melayang lantas hinggap di atas taik ayam eh tanah. Tapi gue nggak mau hanya melihat dan mangap, gue mau nyangkul dulu sembari menunggu ia datang menghujam bumi.

Dan kemarin adalah konkretnya. Gue ambil kerja amit-amit jabang beibeh yang dicela abis sama temen yang emang mulutnya septitank. Sama, sih, mulut gue juga truk tinja. Jadi wajar aja gue dicela dan dihina. #Sisiran.

Lupakan hal buruk: si petugas KAI salah ngasih info hingga gue musti beli karcis dua kali (kudanil!). Lupakan fakta: gue harus jalan kaki, ngiterin Senayan, hingga kaki gue nyaris menawarkan diri jadi pengganti kaki atlet marathon, lupakan gue nyampe kos after mid nite dan nyaris tidak diizinkan masuk kost, lupakan fakta: gue bersalaman dengan kedubes, pejabat antah berantah, ketua advokat entahlah namanya, pengacara beken siapalah itu (kok kayak pamer, cuma salaman doang, Sar, apa yg musti dibanggain?), tapi gue mendapat pelajaran hidup dari seorang mahasiswi berusia 19 tapi dengan pola pikir 39 tahun. Pola pikir 39 ini bukan: doski ciamik dalam ilmu per-hooh-an, atau gape dalam urusan tenet-tenetan.

Namun kemampuan dia dalam bertahan hidup.

Sebut aja namanya Kentung eh Kasandra. Doski adalah mahasiswi hukum di universitas negeri. Penampakannya: manis, langsing, dan kecil segede telor ceplok (apanya?), berambut panjang, bermata sayu, berdagu lancip, jenggotan (itu sih kambing). Dan aura yang terpancar dari dirinya adalah: smart dan kalem.

Saat menunggu waktu akan mengubah Cinderella menjadi Upik Abu, iseng-iseng gue tanya. “Kasandra, mau mudik kapan?”

Dengan senyum tipis dia menjawab. “Nggak mudik, soalnya tanggal 7 mau ke Newyork.”

Gue langsung merasa salut. Ini anak, tajir melintir tapi masih mau naik CL. Tapi, dia bercerita panjang. Dia bukan anak orang kaya seperti pada umumnya anak FH. Dia ke Newyork bukan dalam rangka USA-trip, tapi karena paper-nya mengenai suatu masalah politik yang pelik diterima oleh suatu kongres dan dia datang ke Newyork dalam rangka mempresentasikan papernya itu.

Keren.

Gue tanya lagi, udah pernah kemana aja? Doski menjawab ke: Turki, London, Holland, Tokyo, Singapur. Dan kesemuanya dalam rangka menjelaskan papernya. Dan paper yang dijelaskan mengenai hal yang berbeda-beda.

Gue langsung kasih jempol 6 biji dalam empedu eh dalam hati, empat jempol gue sendiri, yang dua biji ngutang dulu.

Lantas dia bercerita. Dia adalah anak daerah dari pelosok jawa sana. Dia bahkan pernah nggak makan selama dua hari karena belum mendapat togel eh transferan. Karena tidak makan selama dua hari itu itu, dia bisa tahu rasanya lapar yang sangat sakit. Dia paham dengan orang memilih menjadi PSK, wanita rela vajayjay-nya dihinggapi lelaki bukan pasangan, ada orang yang rela menjual organ tubuhnya, rela menjadi pembunuh bayaran, rela menjadi banci padahal masih doyan sama telor ceplok, dan profesi-profesi lain yang kita anggap: OH MY GOD, selama ini. Baru tidak makan dua hari saja, sebegitu sakitnya, apalagi kemiskinan yang membelit nyaris setiap detik.

Pendapatnya: 100% benar adanya.

Dan menurut penuturannya, setelah mengalami proses melapar itu, maka di sinilah ia, mengeluarkan jurus bertahan hidup. Dia kerja apa saja sembari kuliah. Hingga pada akhirnya di sela-sela kesibukan belajar pasal-pasal, ia menjadi koordinator acara di sebuah televisi, membuat paper internasional banyak-banyak, ikut proyek riset sana-sini, dan mengikuti lomba apapun juga di fakultas dan kampusnya.

Menurutnya lagi, ia sudah terlanjur terjerumus di sebuah jeram, dan hanya ada dua pilihan:

1. Tenggelam

2. Berenang.

Ia memilih untuk berenang meski itu sangat lelah, karena ia tidak mau tenggelam lantas mati. Dia sudah kadung memilih jurusan Hukum yang berada di dalamnya bagai berada dalam hutan belantara, hukum rimba berkuasa, siapa yang punya jejaring dan achieve di berbagai bidang unggulan, dia adalah sang juara. Begitu kompetitifnya kehidupan di FH hingga ia rela menanggalkan berbagai kesenangan masa muda.

Gue mendadak ngambil jangkrik biar menambah syahdu suasana.

Intinya adalah, oh ayolah Sar, hidup lo tuh masih sebegini lunaknya, ada lho orang lain yang mesti banting-banting tulang secara harfiah: stunmant, kuli panggul dan pekerjaan kasar lainnya, dan mereka masih baik-baik aja. Masa elo yang cobaan hidupnya masih kelas teri udah menga-aduh-aduh, kayak ngeden dengan tenaga kuda karena udah sebulan enggak boker.

Ayolah, bangkit, adopsi prinsip bayi yang tetap belajar berjalan meski jatuh berkali-kali. Kamu bisa, Sar. Asal kamu mau dan tidak nyerah pada godaan segelas es buah. Maksudnya, kamu bisa asal jangan berpikir yang instan itu lebih baik. Masa kalah sama anak umur 19 tahun. #Handukan.

 

 

Iklan

2 thoughts on “About Something

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s