Sayonara!

Image

Semua dimulai dengan selinting kalimat yang serupa. Kalimat klise yang berhamburan di mana-mana. Kalimat: setiap perjumpaan pasti diakhiri oleh perpisahan. Kisah ini tentang perjalanan aneh. Aneh karena, tak sengaja menemukan cinta, dan harus berakhir  sebelum mekar. Namun, seaneh-anehnya dari hal yang paling aneh, aku merasa diriku tidak sendirian. Ada Romeo dan Juliet, ada Siti Nurbaya, dan ada selusin pasangan kekasih lain yang harus meregang sebelum menyatu.

Bersatunya dua cinta adalah rasa yang manis. Getar-getar yang mengeluarkan rasa senang, terasa bagai mantra pengobat sakit yang tak terobati. Memang bukan jampi-jampi. Jangan keliru menafsirkannya. Aku hanya bercerita tentang sepasang manusia dari tujuh miliar manusia yang pernah mencicipi cinta, pernah menumbuhkannya, dan dengan sengaja mematikannya. Tragis?

Tragis memang. Karena rasa suka itu terpantik dari sembilan tahun yang lalu, dan dipertemukan sembilan tahun kemudian. Apakah ini namanya? Teka-teki takdir? Bisa jadi. Yang jelas, saat memperjuangan cinta ini rasanya mulut menjadi empedu. Empedu menjadi jantung. Semua daya aku kerahkan, dan daya menjadi semangat. Semangat itu lantas mendaging dan mendarah. Mengotot. Membadan. Dan hal tak mungkin, menjadi masuk akal. Banyak hal tak masuk akal menjadi masuk akal karenanya. Contohnya, saat aku menempuh perjalanan dari pinggir kota, ke pusat kota dan lantas kembali lagi ke pinggir kota  namun terasa jadi perjalanan singkat bagai sekedip mata. Namun, apa dayaku? Aku sudah berjuang sampai detik terakhir. Sudah begitu banyak kalimat aku sematkan. Semua kalimat yang memohon agar engkau memilihku.

Kalimatku terpotong begitu ingatanku mendengingkan ucapanmu pertama kita berjumpa. Ucapan yang sangat manis kala itu, namun sangat getir bila kuingat kini.  Katamu waktu itu. “Aku ingin kamu terus berada di sisiku, menghabiskan hari yang tersisa.”

Nada suaramu lembut tak tertebak.

Kamu dan aku mempunyai keinginan yang sama. Menikmati sisa umur kita dengan senikmat-nikmatnya. Saling menggengam. Saling menopang. Saling menguatkan. Kamu dan aku sama-sama orang yang tak bisa diam. Ingin menjejakkan langkah di tanah sejagat. Mungkin awalnya cukup hanya berkemah di Sarongge. Berpeluh dan memanggang diri di Sawarna. Menandak-nandak dan mengukur tanah di Malang. Dan menginap di rumah kawanmu di Negara Singa.

Aku pun ingin mengajakmu ke Bukit Bintang. Bersenda tawa di kafe jalanan Braga. Atau sekedar berleha-leha di beranda rumah kita sendiri. Kamu dan aku mempunyai cita-cita yang sama, memiliki rumah mungil yang simpel dan sangat rumahan, nyaman maksudku. Oh ya, aku selalu ingin meraih tanganmu lantas berkunjung ke rumah teman-temanku yang membanting tulangnya di Canberra, Helsinky, Carbondale, Holland, sebelah tenggara London yang entah apa namanya, pokoknya mereguk pengalaman mereka dan menyuling asin pahitnya kehidupan mereka saat berjibaku di negara lain atau di negeri  empat musim. Entahlah. Semua itu kini terasa sangat jauh.

Namun, ada satu dorongan menggelegak, membikin aku tergopoh-gopoh merogoh cinta, dan menjejalkan di genggamanmu. Aku takut waktu kita tak lagi ada. Aku takut tubuhmu membalik dan berjalan pergi. Meninggalkan seonggok tubuhku yang meluruh di tanah dengan hati sangat membusuk dan sangat nyeri.

Dan kengerianku berwujud nyata. Pada akhirnya engkau memilih pergi. Memilih hati lain untuk kau singgahi.

Iklan

5 thoughts on “Sayonara!

  1. walau pun terlalu indah untuk dilukiskan
    dengan kata untuk kujadikan sebuah syair
    tetapi terlalu pahit untuk dikenang
    kenanganku.. yang pernah kulalui bersamamu,,

    tebak lagunya siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s