Let’s Imagine “Crazy”! (part 1)

Aaaaaaaaaaaaaak.

(Foto-foto dicungkil dari sini)

Apa kabar Mas Bro, Mbak Sis? Jumpa lagi dengan Sarah di sini. Kata Aaaaaaaaaak tadi nggak sengaja ketulis gara-gara gue nginjek kecebong yang mencelat dari sangkarnya, dan biar tampak dramatis aja, sih.

Sebenernya jurnal gue kali ini nggak jelas tema-nya apa. Tetapi, selama beberapa minggu ini gue banyak merenung dan akhirnya mendapat pencerahan. Dan kini gue udah bisa bangkit pelan-pelan. Gue musti akuin satu hal. Bulan oktober adalah masa terbusuk dalam kehidupan gue.Image

Bulan yang tadinya nyaris membuat gue kepengen mengakhiri hidup di pelukan Jude Law atau Emile Hirsch.

Baiklah. Daripada gue nanti bakal curhat tiada usai, mending langsung aja ke menu utama. Gue akan mengajak kalian semua seneng-seneng dan kembali ke masa kecil kita, dimana, kita sering terbawa ceria dengan cara berimajinasi. Saat gue kecil, gue suka berkhayal —meski khayal gak suka sama gue—. Dalam lamunan menjelang tidur, gue bisa jadi apapun. Putri Salju, Alice in Wonderland, kancil, burung blekok, pokoknya apapun. Sesuka hati. Tanpa tendensi. Rasanya saat itu yang ada hanya hepi, hepi daaaaaaan hepi. Seolah hidup ini hanya diisi oleh bunga berwarna-warni, bintang kelilipan, langit biru lebam, dan tidak bingung mikirin hutang. Tapi anehnya, saat itu gue pengen cepet-cepet gede. Dan setelah tua kayak sekarang, paling bete kalau udah mendekati tanggal tua dan hari ulang tahun.

Ya, mau gimana lagi, tahun tetep aja berganti, meski muka nggak ganti-ganti. Coba gitu setiap tahun muka gue berubah. Tahun 2012 mirip Nabilah, tahun 2013 mirip Miranda Kerr, tahun 2014 mirip Song Kye Gyo. Pasti pergantian tahun nggak akan gue sumpahin.

Tetapi, seperti halnya tahun yang terus berubah, maka cara berpikir gue pun mulai berubah. Pernahkah kalian mendengar suara preeeeeeet? Eh, maksud gue, pernahkah kalian mendengar kalimat: alam bawah sadar kita akan mewujudkan apapun yang kita pikirkan, baik pikiran senonoh ataupun pikiran tak senonoh. Pokoknya, pikiran yang terkuatlah yang akan terwujud.

Contoh: Gue sering khawatir dan melamun tanpa sadar: gelisah dengan seorang dosen yang akan menjelma menjadi wewe gombel kalo gue mengunyah kertas ujian segepok. Kenapa gue musti memakan kertas ujian? Karena gue takut dapet nilai E. Dan sehari kemudian, beneran aja itu dosen bukan sekedar jadi wewe gombel, beliau pun mengusir gue dari kelas untuk selama-lamanya, dan selama-lamanya untuk keluar, dan untuk keluar selama-lamanya, dan keluar selama-lamanya untuk. (Sar, udah Sar!)

Contoh lain: Duh gue takut, nih, kalo nanti gue akan kesepian alias keselak pipis tak tertahankan (Kebelet pipis), padahal sekarang lagi di tengah jalan tol, yang jauh dari Rest Area, yang mana sang sopir udah mengancam kalo gue minta macem-macem, maka tanduk akan nongol dari kepalanya, trus gue akan disundulnya, deh. Dan karena gue khawatir melulu, maka yang terjadi terjadilah. Gue beneran nggak-tahan-sangat-nggak-tahan-dari-yang-super-tak-tahan. Akhirnya, gue pun pipis di celana.

Image

Contoh lain lagi: ini tentang mas bro. Mas bro punya pacar super cantik, ciamik lahir bathin. Ditambah sang pacar orangnya asyik, smart, humoris, temen cowoknya seabrek-abrek, kadang kalo  mas bro lagi bokek, pacarnya suka rela jualan opak di perempatan lampu merah. Kurang apa coba? Pokoknya, mas ini sedang ketiban bulan. Dan sesungguhnya di hati yang terdalam mas bro udah sadar bahwasanya mas bro bermuka waduk Jatiluhur —keruh, kusam dan tanpa harapan hidup—. Kok bisa-bisanya punya pacar bak bidadari gini? Lantas, mas bro jadi posesif. Mas bro takut kalo sang pacar selingkuh. Trus mas bro nyinyirin mulu deh. “Lagi di mana? Sama siapa? Ngapain? Genteng udah dipasang blom? Kebo udah dimandiin? Ayam udah dikandangin?”

Nah! Apa yang terjadi?

Jeder!

Bener aja deh pacarnya selingkuh karena nggak tahan sama kelakuan kang-mas-bro-sang-waduk-Jati-luhur. Noted: Ini bukan pengalaman penulis, hanya berdasarkan bukti empirik sahaja. Lho, sama aja Sarceeee.

Contoh lain lagi dan lagi: (Cukup, sih, isi sendiri, ya. Udah pada pinter, kan?)

Pembaca yang budiman, nggak mau dong punya kisah hidup kayak si gue dan mas bro yang otaknya penuh gelisah, dan akhirnya kegelisahan itu menjelma menjadi nyata, lantas menjadi malas untuk hidup, padahal sebenernya si hidup yang malas sama kamu. Jangan sampe deh gara-gara negatif thinking, bawaannya pengen mencangkul orang dan pengen nenggak aer keras.

Tenang, tante Sarah punya solusinya. Tinggal pilih mau paket yang mana? Boleh cicilan 100% selama 1 bulan, kok.

Sebenernya, tante Sarah juga lagi belajar, sih. Soalnya beberapa minggu yang lalu, tante masih desperate dan berkata: “Saya mau mati aja, dada ini sesak sekali, saya nggak punya semangat hidup karena nggak ada kamu, lantas untuk apa saya hidup? Untuk menumbuk padi dan mengecat aspal? Saya tak mau, Rudolfo. Ahhhh.”

Rudolfo menjawab: “Jadilah Sarah yang dulu, yang selalu ceria, yang seolah tidak mengenal PMS, yang suka ngelempar granat eh jokes-jokes random, dan mampu mengubah masalah jadi tantangan.”

Gue tangkap kalimat itu baik-baik, gue resapi, gue bayangkan the real Sarah sebelum terkontaminasi itu seperti apa, dan akhirnya gue wujudkan dalam penampakan kue cucur.

Dan setelah gue renungkan, inilah jawabannya: dulu, gue selalu melihat segala sesuatu itu dari sisi komedi, saking anehnya cara pandang gue, otot ketawa gue menjadi dol. Meski, pernah juga otot ketawa itu mendadak hilang, means: di satu titik gue kehilangan selera humor, mungkin saking depresinya. Tapi, tenang, sekarang otot ketawa itu udah terjahit kembali, meski kembali dol.

Image

However, it was gone. And I took that as my life’s journey. And now, welcome to my world. We simplify the world. A place that we will fill with laughter. Ready to enjoy the journey in my world?

Kini saya bisa lebih menikmati hidup. Menikmati sakit, getir bahkan membalikkan keadaan sedih menjadi senyuman pada akhirnya, agar si sedih tidak menggosongkan hati saya. Mau tahu triknya? Mungkin, trik Ini bisa untuk membangkitkan semangat saudara-saudara sekalian yang  sedang drop. Kalau iya ingin tahu. Here we go:

1. BERKENALAN DENGAN DIRI SENDIRI

Sebelum mengenal orang lain, sebaiknya kita udah kenalan dengan diri kita sendiri. Apa yang kita rasa? Apa tujuan hidup? Mengapa memilih untuk makan pigura? Kadang gue marah-marahin diri sendiri karena nggak bisa dibilangin. Kadang gue memaki diri sendiri karena bandel banget, udah dinasihatin kalo salep itu untuk dioles bukan dijilatin, yapi tetep nggak mau nurut. Biasanya, setelah mengobrol dengan diri sendiri, semangat yang tengkurap udah mulai mau duduk.

2. HIDUP UNTUK DETIK INI

Tapi kan Sar? Cicilan gue banyak banget. Anak gue di sekolah belom dijemput. Papah di kantor juga punya sekretaris bahenol eplok cendol. Trus kalo anak gue di sekolah dikasih permen yang isinya ganja, halima, helikopter gimana? Trus si papah kalo pangku-pangkuan sama monitor gimana? Trus kalo sekretaris si papah kedip-kedip genit ke si papah gimana?

Jawaban gue: liat paragraf-paragraf awal: pikiran terkuatlah yang akan terwujud. Kalo Jeung-Jeung sekalian khawatir dan berdelusi tentang hal tak senonoh, maka hal tak senonoh juga akan terjadi.

Terus gue harus gimana, Sarah?

Hiduplah untuk detik ini. Kalau lagi nyuci piring, ya fokus pada sabun dan air yang mengalir dari keran. Mungkin, dengan menikmati proses mencuci piring, tiba-tiba, EUREKA! Jeung, menjadi penemu bagaimana pelototan mata bisa memancarkan busa sabun, tanpa susah payah gosok ini itu. Berbuat yang terbaik untuk saat ini aja, Jeung. Dont worry, be happy.

Image

3. BERIMAJINASI YANG BAIK-BAIK

Iya, jangan membayangkan yang busuk-busuk, cuma bikin sesek napas doang. Bagi yang jomblo, bisa memulai dengan membayangkan punya pasangan yang segantheeeeng Emile Hirsch. Atau secantik Zoeey Deschanel yang sebelas duabelas ma muka gue kalo nggak pake hijab (muntah tali jemuran). Atau bagi yang terjebak dalam kandang bisa membayangkan berada dalam taman. Atau yang sedang berada dalam kapal selam bisa membayangkan berada di Manhattan.

Bagi gue berimajinasi itu bisa membangkitkan semangat untuk segera mencapai mimpi. Jadi pada saat rasa males itu mengurung gue, biasanya gue membayangkan apa tujuan hidup, dan jadi bukan sekedar delusi, ada konkretnya, ada yang diperjuangkan, nggak gampang keok saat menghadapi kendala dan menjadi mampu THINK OUT THE BOX!

Image

4. BERSYUKUR DAN MEMAAFKAN

Rugilah orang yang suka mengeluh, menularkan aura negatif ke orang-orang sekitar. Merugilah orang yang tidak pernah puas dengan apapun. Betapa sakit hatinya orang yang memelihara kebencian di dadanya. Pedihlah hati orang yang menyimpan dendam. Dan boroklah jiwa, orang yang menahan marah dan selalu ngambek terhadap hal-hal yang menurutnya tidak sesuai harapan. Mungkin terdengar klise, tapi coba aja uji dan praktekin sendiri. Lebih enak mana, memaafkan orang —yang mengatakan kita mirip Ladya Cheryl, tetapi faktanya tetep jij ditinggal kawin— atau mendendam pada orang tersebut dan berniat untuk memanahnya dengan kerikil beracun? Jawabannya? Cobain aja sendiri.

GItu aja, sih. Nanti kita lanjoot ya, Guys.

Image

BERSAMBUNG..

Iklan

7 thoughts on “Let’s Imagine “Crazy”! (part 1)

  1. Jadi segar pagiku setelah baca tulisan ini. Jika kita bisa memilih untuk menikmati hidup ini, mengapa malah pilih sebaliknya? Bodohlah kita jika begitu. 😉

    Salam persahablogan
    @wkf2010

  2. *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*
    *GUE MIRIP JOHNNY DEPP*

    *trus ngacaa*
    *trus senyum*
    Ahhh… gw lebih keren dari Johnny Depp kok ternyata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s