Move On!

Suatu hari, saat gue sedang bikin artikel dalam bahasa linggis dengan gaya bahasa ala-ala majalah Cosmo, tiba-tiba Salma—temen kos gue—Image,

ngebuka pintu kamar dengan tenaga atlet tong aer.

“Sar! Elo musti nonton film Tenggelamnya Kapal van der Wijk!” katanya dengan suara bikin sawan anak macan.

“Kenapa emangnya? Ada adegan hooh-hooh?” jawab gue kalem.

“Hish, bukan! Filmnya kayak elo banget. Sama-sama profesinya penulis, sama-sama ditinggal kawin!” katanya lagi, penuh semangat.

Catatan: GUE BUKAN PENULIS. Belum ada buku atau novel yang gue hasilkan. Gue cuma kecanduan merangkai kata-kata dan bikin iklan (storyline), ya sejenis copywriter gitu, deh.

“Alaaah, sebenernya elo nyambi jadi marketer film, kan. Ya, kan?” tanya gue curiga.

Salma mengembuskan napas setengah meter. “Ya keles. Pokoknya, ELO MUSTI KAYAK SI ZAINUDDIN!”

“Operasi kelamin maksud lo?”

“Hih, bukan! Lo musti bangkit kayak si tokoh dalem cerita itu, namanya Zainuddin, lo harus jadi penulis terkenal, jadi Cong, ya…” Bla-bla-bla, Salma nyeritain semua yang terjadi dalem film itu.

Salma pun bela-belain mendonlot lagunya Nidji “Menunggu Karma”, ย yang ialah soundtrack dari film itu. Muka gue udah pucet kayak celana direndem selama satu windu.

“Inget, ya, Cong! Mulai sekarang elo musti sadar bahwa dia itu masuk dalem golongan cowok BANGS*T. Pas elo jadian sama dia, itu cuma manfaatin elo doang. Gue udah khatam deh ngadepin cowok BANGS*T model gitu!” ujar Salma dengan menggebu-gebu.

Memang, tadinya gue begitu sering mikirin mantan sehingga terancam tumbuh agama baru: BROWNY-ISME. Yang salah satu bunyi ayatnya: “Wahai manusia, sesungguhnya, laki-laki baik itu seharusnya seperti mister Brown yang kelakuannya anu anu dan anu.”

Tapi, tenang, sekarang saya minum dua! Eh, sekarang sudah tidak! Hidup gue nggak lagi dihantui oleh “kebaikan-kebaikan” doski. Syukurlah, sekarang bayangan mister Brown bukan lagi kekuatan yang semena-mena nutupin hati gue. Gue nggak pernah lagi menatap buku berjam-jam, tapi nggak ngebuka halaman baru alias pura-pura baca buku padahal ngelamun. Menurut gue, saat ini, gue punya jam-jam SUPER menarik yang jauh lebih seksi daripada mikirin orang yang pernah gue persilakan dengan SENGAJA untuk NGEHANCURIN hidup gue.

Btw, gue nggak nyesel pernah ketemu makhluk ini, gue yang dulu bikin kesalahan—membiarkan jatuh cinta sama doski— yang mana ngasih gue pengalaman super blacukan, sekaligus menjadikan gue lebih “kekar”, dan voila: gue terus bertumbuh, tumbuh, dan tumbuh. Kalo kata Kelly Clarkson:

What doesn’t kill you makes you stronger.
Stand a little taller.
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone.
What doesn’t kill you makes a fighter.
Footsteps even lighter.
Doesn’t mean I’m over cause you’re gone.

Moral of the story: Manusia yang pengen naik level musti bolongin laut Sardinia dan ngebakar negara Lesotho, ya, Cin. Pokoknya, kalo mau lulus ujian hidup, butuh perjuangan tingkat tinggi.

Dan, gue nulis jurnal ini bukan bermaksud untuk pamer. Gue juga nggak ada maksud buat bilang bahwa gue seaduhai Miranda Kerr, meski kenyataanya emang iya. Dan gue harus ngakuin hal-hal menarik akhir-akhir ini adalah nyuci baju pake sikat gigi (dungu) atau bikin lukisan pake lipstik (oon). Intinya, gue sangat mencintai hidup gue yang sangat colorfull ini, dan memang bener, bahwa Tuhan itu maha humoris, jadi menanggapi ujian atau cobaan-Nya nggak usah dengan otot leher kenceng dan punggung tegang, cukup kasih senyum terlegitmu, lantas jalanin aja sambil siul-siul kecil.

Tetapi, jangan salah, sebelum gue tiba pada KESADARAN ini, gue juga pernah ngalamin fase murka sampe pengen ngebom tugu tani, dan berkeyakinan gue MENCINTAI ORANG SEJENIS MONSTER ATAU BIG FOOT. Hal itu disebabkan karena;

1. Gue PERNAH menganggap bahwa; DIA MANUSIA YANG SANGAT TAK SENONOH

Tadinya gue menganggap bahwa dia tidak menghargai gue. Dia ngeblock WA, facebook, unfol twitter, seolah-olah dia dilanda KETAKUTAN hebat bahwa gue akan mencolek lagi kehidupannya. Emangnya GUE CEWEK CAKEP APAAN, musti nyariin Anda, wahai kuda nil? Maaf, lho. Anda bukan satu-satunya lelaki di bumi ini. Ada tiga miliar cowok kencan-able di dunia ini. Ngapain gue musti ngemis-ngemis pada Anda yang sudah jelas nendang saya? Seandainya Anda adalah lelaki terakhir, saya memilih tidak menjadikan masa-lalu (baca: Anda) sebagai pilihan. Mending gue pacaran sama batu atau lumut kayu aja daripada menjadikan Anda sebagai kandidat. SAAT ITU gue pengen teriak: JADI NGGAK USAH LEBAY DAN KEGEERAN Anda akan saya hubungi! Saat itu gue bener-bener kecewa karena dia ingkar janji. Dia pernah berjanji pada gue bahwa dia nggak akan ngilang. Dan saat itu gue masih berekspektasi dia akan bersikap dewasa dengan menggenggam erat janjinya.

2. Saat itu gueย  menganggap bahwa: Dia MEMBIARKAN gue hancur.

Dia pernah berjanji akan menyayangi gue sampe akhir hayat. Kok tega banget sih biarin gue hancur. Oleh sebab itu gue jadi menganggap bahwa omongan laki-laki itu kayak kentut, enak di elu nggak enak di gue, gue berasumsi semua laki-laki itu CODOT! Sekalian aja gue rusakkin hidup gue. Saat itu, betapa kehilangannya gue di saat subuh nggak ada yang bangunin gue, padahal ada 2 hape yang gue nyalain alarm-nya di samping bantal tapi tetep aja gue kebo garis keras. Padahal kalo dipikir sekarang, dia nggak ada kewajiban secuil pun atas diri gue. Jadi, SIKAP GUE KEKANAKAN BANGET, Coy.

Nah, cukup dua aja deh gue buka gimana persepsi gue tentang mantan. Tetapi, gue sekarang tiba pada kesimpulan bahwa:

1. Dia ngeblock gue, menghilangkan jejak gue karena MUNGKIN dia pun pengen move on.

Dia berniat MEMBUNUH cintanya pada gue. Dan gue hargain itu. Artinya adalah, mungkin sosok gue terlalu keren untuk dilupakan. #Batukrejan. Bagaimanapun, dia berhak bahagia dengan pasangannya saat ini, dan bagaimana mungkin dia bisa hepi-tralala sementara bayangan masa-lalu masih nyangkut?

2. Gue tidak pernah memutus tali silaturahmi.

Pada mantan manapun gue berusaha untuk meminta maaf atas kesalahan-kesalahan gue. Meski, gue akan menunggu dulu hati gue menjadi netral, jadi bener-bener bukan bermaksud modus gitu lho. Jadi, kalau mantan-mantan gue nggak mau menganggap gue ada, itu mah urusan kalian dah.

3. Mempunyai prioritas lebih ciamik.

Sadar bahwa membaca novel peraih nobel dunia seperti Jane Austen, Hemingway, J.D Sallinger, Yasunari Kawabata, dll. Jauh lebih menggemaskan daripada mengasihani diri sendiri. Sadar bahwa olahraga macem sit up, jogging, ngangkat galon aer, ngeruntuhin jembatan sirotol mustaqim jauh lebih cihuy. Sadar bahwa mencandu pada aksara lebih bermakna daripada meratapi nasib. Dan sadar bahwa mendaki gunung bersama teman-teman lebih asoy daripada mengerami telor ayam. Sadar bahwa bekerja banting-banting tulang demi bisa membeli rumah dan kendaraan bagi krucil jauh lebih urgent.

4. Hidup itu hukum sebab akibat.

Ada karma baik dan karma buruk atas kelakuan kita. Jadi gue lebih hati-hati dan waspada saat melangkah. Nggak gue pungkiri lah hidup gue kemarin-kemarin banyak dodolnya, makanya sekarang gue ubah jadi odol, berusaha nggak ngulang lagi kesalahan.

Dan atas segala masalah yang telah meninju gue, maka gue mengucapkan

Thank God I’m still alive. Love U, God.

Iklan

27 thoughts on “Move On!

  1. Ini tadi kirain blog punya siapa, eh ternyata punya siapa. Hidup move on! Lembaran baru, themes blog pun baru. Semoga rejeki baru dan harapan baru bermekaran. Merdeka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s