Say No to Violence

ImageImage

Gambar, gue jimpit dari sini.

Suatu dini hari, dengan sangat-nggak-tau-diri, gue melolong-lolong sambil berdiri. Saat gue ngaca di cermin, gue mendapati mata gue sangat merah karena nangis, sehingga gue kelihatan seolah telah sarapan dengan martini selama 69 tahun terakhir.

“Kenapa dunia nggak adil, dia yang tukang nyiksa, kenapa dia yang dapet rewards?” tanya gue ke temen cowok—biasanya kaum adam lebih rasional, jadi gue memang memilih buat diskusi sama mereka. “Bener-bener dunia itu BER*K.”

“Kalo dunia ini ber*k, elo berlumuran tok*i, dong, Mbak,” ledek Bambang—bukan nama sebenarnya. “Mbak, udahlah, ini semua udah jalan hidup lo. Ini udah yang terbaik buat lo. Trust me, elo tuh bukan ibu durhaka. Elo nice mom.”

“Gue kan nggak tinggal di dunia, gue tinggal di Nirvana,” gue membela diri sambil mendesah. Dan suara desahan gue sanggup membuat pertapa pulang terbirit-birit, kapok dateng ke tempat sepi, dan mengubah kebiasaan cari ilham di pelabuhan yang super hiruk. “Anyway, thanks lho, udah ngasih tau siapa gue,” cetus gue dengan sarkas.

Gue anggap saat itu, Bambang udah selihai Tinky Winky, yang hobi ngasih petuah dan petunjuk.

“Eh, well, tadi lo bilang gue; nice mom?” tanya gue sinis. “Elo ngelawak?”

“Abisnya, kalo gue bilang elo bad mom, entar gue diculik, trus dimasukin karung, trus dijatohin ke kawah, apalah itu namanya yang sering lo sebut? Gunung Ama Dablam?”

“Nggak akan, gue paling baret-baretin mobil elo, sayangnya elo nggak punya mobil,” kata gue sambil nyengir.

“Ehm. Gini, Mbak. Sekarang elo kerja. Duit hasil kerja lo, udah lo beliin reksadana 10 tahun. Lo bilang, buat biaya sekolah anak-anak. Menurut gue, elo nggak nelantarin mereka. Keadaan yang bikin lo nggak bisa bareng mereka, kan? Dulu pun, saat lo masih sama mereka, lo urus mereka tanpa mbak asisten dan nanny. I think you must proud of yourself. Please, dont blame yourself anymore. ELO BUKAN IBU DURHAKA!

“Masalahnya, saat ini pun, gue pengen banget ngurusin mereka lagi, Mbang. Gue yang hamil, rela nelen puluhan vitamin asalkan baby gue sehat. Nyusuin sampe 2.5 tahun. Masakkin mereka macem2 makanan biar mereka nggak bosen, nyuapin, toilet training, nyebokkin, mandiin, ngelap muntahannya. GUE PENGEN NGURUSIN mereka lagi, gue rela ninggalin kerjaan gue yang sekarang, kok.

“Mbak, kan belom bisa. Bukan nggak bisa bareng mereka. Sabar, Mbak. Mending, sekarang kerjain apa yang bisa lo bisa kerjain. You should thank God for the life beautiful. BERSYUKUR, Mbak. Biar hati lo tenang.”

*********

Barulah, pada jam delapan pagi, itu pun pasca gue ngobrol sama Bli Ananta, hati gue yang kemrungsung akhirnya adem. Beliau nulis di wa seperti ini:

“HAI SARCE. ADIL ATO NGGAK ADILNYA, JANGKAUAN KITA SEBAGAI MANUSIA YANG TERBATAS. TAPI KITA PUNYA FREE WILL UNTUK MENGERJAKAN SESUATU YANG BERBEDA. SEPERTI PILIHANMU NEMUIN ANAK-ANAK DI SEKOLAH. GOOD CHOICE! GIVE THEM LOVE! KALO DI KEMUDIAN HARI TAK BERBALAS, ITU KARENA MEREKA PUNYA FREE WILL UNTUK MEMILIH YANG MAU MEREKA LAKUKAN.”

Gue nyaris bertepuk tangan saat dapetin kesadaran bahwa, ya tugas kita sebagai manusia adalah menabur cinta. Gue pun seharusnya ngasih cinta ke diri gue sendiri, gue nggak boleh lagi menyiksa—bersedih dan depresi—diri.

Di tengah padatnya pengguna Commuter Line, gue ngambil hikmah dari semua kejadian, lantas menjejalkannya ke sel-sel kelabu dalem otak. Meski ada sedikit rasa geregetan dengan pemahaman yang terlalu instan, seperti gue udah ngantri selama 6 jam di loket stasiun, dan ternyata tiket udah abis.

Keesokan harinya Bli melontarkan sebuah pemikiran yang lagi-lagi sangat ingenious dan canny! Tentang BUTTERFLY EFFECT.

Well, butterfly effect biasa dipake penulis ketika merangkai alur. Sebenernya, sih, semacem fenomena; kepakan sayap kupu-kupu yang lembut, lemah, indah, imut dan rapuh itu ternyata mampu menimbulkan badai.

Kembali ke judul: Say NO to VIOLENCE. Gue tiba pada satu kesimpulan maha penting, bahwa:

1. PENYIMPANGAN APAPUN HARUS DIRESPON DENGAN TEGAS.

Dari sejak pacaran—maaf, kalo beberapa kali gue nggak mau ngakuin, karena dulu gue merasa paling benar dan males disalahin— gue udah terbiasa dengan pemukulan, cubitan, makian, penghinaan. Kalo temen kos nanya kenapa gue lebam-lebam, gue biasanya nutupin dengan bohong. Pernah suatu hari temen kos gue ngeliat gue diseret, dan dia ngadu ke temen2 yang lain, tapi, gue lagi-lagi melindungi pelaku. Hal yang paling fatal dari kejadian di atas, GUE MENGIZINKAN PELAKU UNTUK BERBUAT KASAR pada gue. Saat itu gue nganggep bahwa kekerasan bisa dihindarin kalo nggak ada pemicu. Hasilnya, pelaku nggak sadar bahwa kelakuannya itu abnormal. Salah satunya karena, sebagai “korban”, sang korban nggak bersikap tegas, jadi terus-menerus memposisikan dirinya sebagai orang teraniaya. Dan goblognya gue saat itu, gue nggak ada upaya buat lepas dari hal yang gue kutuk diam-diam.

2. DATING VIOLENCE dan KDRT BEREFEK SANGAT FATAL.

Pelaku dan korban sama-sama tenggelam dalam kubangan masalah. Akibatnya, pelaku terus sakit, dan sudah jelas korban juga menderita fisik dan psikis. Lama kelamaan, gue dan mantan jadi orang super bahlul, karena udah tau sengsara, kenapa dikekepin mulu, sih, si rasa “nyeri-pedih-pegel” itu?

3. EFEK ITU MELUAS PADA ORANG YANG TAK BERDOSA.

Bagaikan makan buah simalakama, menggigit buahnya ibu mati, dan tidak mau mengunyah buahnya ayah yang mati. Begitupun dengan KDRT. Saat anak sudah dilahirkan, mau tak mau mereka tumbuh dalam lingkungan tak sehat. Pelaku dan korban jika meneruskan pernikahan, anak-anak akan terus terekspos dengan kekerasan. Dan jika bercerai, anak-anak akan berpisah dengan salah satu orangtua.

4. SO, TAKE ACTION BEFORE LATE.

Bagi Ladies and gentlemen, yang mengendus adanya ketidaknormalan dalam dunia percintaan kalian: posesif, penghinaan, kekerasan, pokoknya salah satu pihak makan ati dan jadi pihak yang dirugikan, kalian wajib BERANI ambil keputusan. Kalo udah nikah, kasian, lho, anak-anak korban keegoisan orang tua biadab–tunjuk diri gue.

Bener kata temen gue, bisa jadi sebenernya gue butuh bantuan psikolog , karena gue ngalamin dating violence selama 2 tahun dan KDRT selama 7 tahun, yang mana kadang bikin gue jadi pribadi yang suka nyalah-nyahin dunia, padahal mah salah gue sendiri kan, ya.

Ya, bagaimanapun, kehidupan ini bagai teka-teki dalam sebuah permainan. Kadang juga, dapet kelokan-kelokan serem dan terjal, dan tetep musti dilewatin. Sekarang, setelah gue jadi lebih dari sekedar pelakon, mau nggak mau gue ngerasain hal lain, yakni, pengen ngingetin bahwa, apapun bentuk kejahatan, LAWAN! Gue kayak nggak tahan buat ngasih tau pembaca blog gue untuk bersikap BERANI.

Oke, kawan-kawanku sekalian, jadilah orang yang kritis, ya. SAY NO TO VIOLENCE, di manapun kamu berada, apapun bentuknya.

Iklan

7 thoughts on “Say No to Violence

  1. Tak ada ruang pembenaran untuk pelaku kekerasan, bahkan bagi saudara kita penganut Ahimsa-nya Gandhi, bela diri pun bukan sebuah pilihan untuk melakukan kekerasan 🙂

    • Therefore, the victim should be firm. brave act and fight, then leave.

      Ngelaporin ke polisi, sih, boleh2 aja. Tapi bersiaplah untuk mendapat pelecehan dan pemerasan di sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s