Wandering into Lawu

Kalo aja gue tau, bahwa naik-naik ke puncak gunung itu ibarat permainan yang ajib, bukan teka-teki platonik, gue pasti akan menjadikan naik gunung sebagai daftar wajib super-penting-dari-yang-terpenting seperti: maen gaple.

Sejak zaman kuliah, gue udah penasaran, mengapa anak-anak Mapala UI yang ngejogrognya di Pusgiwa bagian belakang pojok, di seberang jamban dan di sebelah timur laut musola, tampak: COOL, PERCAYA DIRI, UNTOUCHED, RAUT WAJAH CUEK dan, korengan eh KEREN-AN. Jauh lebih kece dari kerekan bendera depan Pusgiwa.

 

Secuek-cueknya anak Suma (Suara Mahasiswa a.k.a wartawan kampus), gue berhasil jadian, anak teater UI bisa gue pacarin, anak CDC, Madah Bahana (marching band), hoki, bisa gue kenal, seenggaknya bisa ngobrol-asoy di warung emak dan makan bareng di tukang ketoprak. Cuma anak Mapala, anak koala dan anak Gundala aja yang jual mahal.

 

Itulah alasan pertama gue pengen kenal dengan anak-anak pecinta alam dan mendaki bersamanya.Image

 

Dan, baiklah, di jurnal ini gua akan cerita perjalanan dari Jakarta sampai akhirnya mendarat di gunung Lawu. Kalo melaut mah di Laut Cina Selatan. Mengudara di angkasa. Meroket di tukang gorengan, banyak kroket dan risol di sana. Kalo meriksa di.. (Sar, udah Sar!)

 

Hari jumat saat itu, langit mendung, dan udara dingin ngegigitin kulit gua kayak semut rangrang—mungkin karena gue manis? Atau karena gue mirip Miranda Kerr?—, gue harusnya masuk kerja, tapi memilih untuk home office karena gue bawa-bawa matras yang akan menimbulkan konflik, dan intrik. Dan seperti biasanya hari itu pun gue disesakkan oleh deadline.Tapi demi muncak ke gunung, apapun akan gue kerjain, deh. Jadi empat storyline gue selesaikan dalam setengah hari. Jangan sampe ntar pas di Lawu gue kepikiran kerjaan, makanya gue kelarin dulu.

Image

 

Jam satu siang gue udah jalan dari kosan, tapi sialnya Commuter Line ngalamin gangguan di Citayam, hingga gue harus nunggu sampe bulu hidung sepinggang. Tapi, saat itu gue masih optimis bisa ngejar kereta Brantas yang jalan jam empat sore dari stasiun Pasar Senen. Rencananya, gue akan turun di stasiun Cawang, lantas nyambung pake Transjakarta. Apa daya, sampe Cawang udah jam tiga. Gue bergegas turun di Benhil, dan lanjut dengan ojek ke Stasiun Senen.

Kesalahan fatal gue: ini Jakarta, Bung. Harusnya gue udah duduk manis menggemaskan 1 abad sebelumnya di stasiun kereta. Tapi, gue malah mepet datengnya. Bisa diprediksi: GUE KETINGGALAN KERETA.

ImageImage

Tapi, selow, gue masih usaha keras, saking kerasnya mungkin butuh sepitcher obat pencahar untuk melembekkannya. Setelah gue membersihkan patung Liberty dan menambal lapisan ozon yang tercabik-cabik-dikit, akhirnya gue pun dapet tiket ke SEMARANG dan berangkat jam 22.00. Mean: itu mah kayak gue menuju Batavia, tapi keliling dulu ke kerajaan Samudra Pasai.

But, that’s no big deal, Dude. Yang penting misi gue tercapai.

Oke, karena gue males musti buang-buang waktu di stasiun, gue pun pergi ke Ambasador dulu (Kuningan), untuk melakukan pertemuan rahasia dengan agen KGB. Muter maning, ya, Cin. Dan terang saja aku merasakan gairah cinta menggelora. Ralat: gue ngerasain jantung gue bermain tanjidor di dalam sana, karena gue takut KETINGGALAN KERETA LAGI.

Perjalanan antara Ambasador-Senen pun hebohnya mengalahkan konser Lady Gaga. Kehebohan itu adalah:

1. Tergiur oleh penawaran dari sebuah Bakery: buy one bread get one bread free. Keputusan akhir: Nggak usah beli, tetep aja mahal. Ini hanya strategi marketing, Sarah. Camkan. Oh, camkan!

2. Bakteri dalam lambung, usus halus, usus 12 jari dan usus besar menggeragoti lapisan bagian dalam sehingga gue merasakan perih karena lapar, maka gue membeli sekantung somay, yang ternyata harganya melebihi Bakery, karena gue makan ala portugal (porsi tukang jagal eh gali). Gue pun menyesal dan merasa hidup tak ada artinya lagi.

3. Sangat ingin balik kembali ke pelukan mantan eh, ke dalam Ambasador untuk menenteng seplastik roti hangat, tetapi, khawatir telat.

4. Naik mikrolet 44 dan nyaris pingsan karena diturunkan di depan gedung Sampoerna Strategic yang mana, memori tentang sang mantan—ciuman di kening setiap kali berpisah-joging di senja hari- makan belatung bareng—, membuat air mata meleleh dan menyebabkan Jakarta tenggelam.

5. Dan setelah duduk-asoy di Stasiun Senen, sempet-sempetnya muak oleh pria berkening hitam yang mengabaikan pulpen gue jatuh di antara selangkangannya–mungkin, dia anggap gue bukan muslim, jadi tidak perlu dibantu (makanya pake hijab dong, Sar. Batuk tipis)—, sehingga, gue merelakan pulpen itu jadi anak hilang. Kalo gue pikir2 sekarang, adalah nggak pantes gue ngerasa kesel ma doski, karena siapa tau dia lagi khusyuk sholat dhuha.

Akhirnya, setelah menunggu beberapa kedip mata, gue pun berhasil naik kereta menuju Semarang. Perjalanan masih panjang, masih banyak cerita yang akan gue tabur di blog ini. Tapi, ya sudahlah ya, Cin. BUMI harus segera diurus dan diselamatkan supaya tetap hamsyong, so nanti akan gue lanjutkan, kapan-kapan.

See ya.

 

Image

Iklan

2 thoughts on “Wandering into Lawu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s