Wandering into Lawu (part 2)

 Image

Foto-foto gue derek dari mbah google.

Gue lebih memilih kereta ekonomi saat pergi ke luar kota, apalagi dalam rangka bekpeking atau mengembara ala ransel. Salah satu daya tariknya adalah, penumpang kereta ekonomi itu heterogen, dari mulai mahasiswa, sampai mahacinta, dari orang ngeselin, nyenengin sampai gemesin. Dan jangan lupakan daya tarik nomor wahid: harganya yang kompetitif (baca: murah banget)

Image

ImageImageImage

Di sanalah gue saat itu, dengan beberapa pria asing yang mengajak gue mengobrol, tetapi, gue dirasuki oleh rasa kantuk yang luar biasa sehingga muncullah percakapan sebagai berikut:

Pria 1: Mau naik gunung mana, Mbak?

Gue: Gunung Agung.

Pria 2: Itu di mana?

Gue: Di mana aja, asal ada investor mau bangun. Tapi kalo cowok-cowok saya rasa lebih suka ke Gunung Sahari, deh, Pak. Misalnya ke Alexis, gitu. Bener, kan, ya? Bagi saya ke Gramedia dan Gunung Agung sama aja. Sebenernya sih ada yang lebih keren, namanya Aksara, tapi di sana saya palingan ngences doang, harga bukunya mahal-mahal, seharga Petronas.

Pria 1: Lho kamu kerja di mana?

Gue: Nama tempatnya Koh Samui. Sebenernya Raja Ampat jauh lebih hot nan seksi. Tapi jangan khawatir, tahun depan saya jadi Presiden di Papua New Guinea.

Pria satu, pria dua, dan pria tiga saling menganggukkan kepala, dan sepakat menjodohkan gue dengan Bradley Cooper, setelah sebelumnya mungkin mencelupkan gue ke dalam Waduk Bendokaton. (Percakapan di atas fiktif keles, nggak usah serius banget ah)Image

Gue dan ketiga pria itu terlibat pembicaraan biasa saja, tentang hal biasa saja dan suasana yang biasa saja, dan lama kelamaan ganjelan batu bata  di kelopak mata gue semakin nggak berfungsi, maka gue meminta izin untuk ngorok duluan.

Sesampainya di Indramayu, gue nyaris aja nyongkel mata, karena tiba-tiba di depan gue ada jerapah. Tapi pake gamis. Setelah gue ngucek mata, memang beneran ada orang bergamis, namun itu seorang ibu berusia sekitar limapuluhtahunan dan di sampingnya ada seorang bapak berwajah seram yang berusia sama. Firasat gue bilang, akan ada drama setelah ini.

Gue nyaris nggak tidur setelah drama itu digelar, sesekali mata gue melotot dan terkaget-kaget seolah tempat duduk gue diinvasi segerombolan semut api. Saat akhirnya terlelap, rasanya gue baru piknik di alam mimpi sedetik saja, sebelum dibangunin oleh aroma comberan tepat di bawah hidung gue. “Dasar Kuda nil!” teriak gue sangat serak, kedengeran kayak amandel di tenggorokan gue udah dicopot dan dipajang di tempat lain.

Saat mata gue membulat sempurna, si Bapak berwajah seram sedang khusyuk dan berasyik masyuk menaikkan kedua belah kakinya, di sebelah gue. “Oh ya ampun Fak! eh Pak.” teriak gue lagi, sambil berharap dia bisa denger suara protes gue. Gue lantas ngeluarin sesuatu dari saku  belakang celana jins, dan sengaja ngejatohin di atas lantai kereta.

Benda itu adalah: rencong + belati + seplastik bubuk arsenik.

Bohong, ding. Benda itu adalah saputangan yang berpewangi. Jadi sepanjang sisa perjalanan, gue membebat hidup pesek ini persis kayak ninja.

Tapi, Sob. Bukan itu yang bikin gue pengen memanah bapak itu, yakni, cara dia memperlakukan istrinya, yang sepengamatan gue mah, sang istri kalem dan gak reseh. Cara bapak itu menatap istrinya kayak liat mengkudu busuk. Seolah dia lebih seneng jika istrinya itu berada di kepulauan Anambas, daripada ada di sebelahnya. Ia lebih suka membaca text dan mengetik sms di hape, daripada menanggapi celoteh istrinya. Tapi adegan juaranya adalah saat ia ngabisin secangkir kopi, padahal udah jelas istrinya itu ngomong: “Pak, saya minta dikit, ya.” (pake bahasa jawa). Ih kayak bocah banget.

Setelah itu gue nggak mau merhatiin kegiatan sepasang suami istri itu, karena akan membikin gue bertindak di luar batas seperti: melilitkan ular python di tubuh si bapak.

Dan setelah enam jam perjalanan, akhirnya gue pun tiba di Semarang waktu subuh. Oke, segini dulu aja cerita gue. Next, akan gue ceritain perjalanan gue selama di Semarang-Solo.

See ya.

Iklan

3 thoughts on “Wandering into Lawu (part 2)

  1. Sampe bagian 3 atau 4 baru gw koment lah… karena kalo udah cerita bagian lawu, gw dah tau gaya hidup lo di sonoh… cepetan ceritain sampe kaki gunung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s