Diet ala Vegan

Gue bukan tipe orang yang gampang ngikut arus, atau kepengaruh sama lingkungan. Gue nggak takut kalo gue tampak beda. Satu-satunya yang gue takutin dalam hidup gue adalah, ada seonggok panu di mata, pankreas gue nyempil di kuping, dan dengan kondisi kayak gitu, gue nggak bisa leluasa loncat sana-sini, tanpa takut dapet tatapan meludah dari orang-orang yang berpapasan sama gue. Tsah.

 
Oke, ini yang sebenernya. Gue dulu pengen banget kurus. Kalo nggak salah inget, saat itu gue masih semester dua. Sebenernya, nggak ada yang salah sama berat badan gue, tapi gue malu dengan boops gue yang diameternya menyaingi parabola, dan pinggul gue yang selebar stadion Delle Alpi di Torino Italia. Maka, gue pun diet sangat ketat. Gue pake metode puasa daud—sehari puasa, sehari kagak—plus, lari sprint setiap subuh. Tapi, si bodi tetep aje toge pasar—t*ket gede, p*ntat besar.

 
Saat udah jadi karyawan, gue bener-bener hopeless, dan ya sutralah, mending gue nikmatin hidup aja. Yakni makan apa aja sesuka lidah. Cuma, tanpa sengaja gue ngurangin porsi makan. Karena proses ngurangin jatah itu berlangsung selama berbulan-bulan, ukuran boops dan pinggul gue mengecil. Dengan kata lain gue melangsing. Gue menjelma menjadi gadis mungil, imut, menggemaskan aselole-lole-hosyah.

 
Nah, dengan pemahaman baru, sekarang gue nggak masalah dengan boops dan pinggul yang nauzubile, tapi, ya, Jo, perut saya tampak seperti anggota paskibraka latihan baris-berbaris: maju jalaan, grak!

 
Balik lagi ke paragraf awal. Di grup anak multiply, lagi terjangkit virus demen olahraga, dan mereka melangsing dengan sangat ciamik. So, Sarah, kenapa kau tak menjangkiti dirimu dengan virus itu aja? Berolahragalah segera! Begini, Neik. Masalahnya, sebelum wabah itu merajalela, gue udah terjangkit duluan jadi sport-junkie. Perbedaannya hanya, meskipun gue udah olahraga, perut gue masih aja pengen eksis. Ada yang salah. Bener-bener salah!

 
Sebulan yang lalu, sebenernya gue udah mengafirmasi diri gue untuk jadi orang vegetarian, dengan alasan: MENGHEMAT UANG MAKAN. Hakhakhak. Alasan biar nggak tengsinnya: karena gue sering pegal linu di area tengkuk. Yang mana disinyalir, kolesterol jahat merasuki tubuh gue. Dan, ya, bener banget, setelah gue mengurangi asupan: daging ayam, sapi, dan protein hewani, pegal di tengkuk itu menghilang. Yang gue denger efek samping-setengah-maju-sedikit-nyerong menjadi seorang vegan adalah KURUS + SEHAT. Tetapi, kenapa perut ini semakin seperti globe—bulat—menantang.

 
Akhirnya, gue pun dapet jawabannya hari ini. Kenapa perut saya bundar:
1. Gue terlalu sering mengunyah + menelan makanan berminyak.
2. Gue tergolong pasukan Portugal—porsi tukang gali. Yang sering terjadi, gue jalan sesenti, oahraga semenit, lantas mengembalikan kalori yang hilang dengan makan sebanyak volume dalam tabung gas elpiji 20 kg.
3. Bukan vegetarian yang konsisten. Terkadang masih sering makan hewani apalagi kalo pas pesta atau sedang ditraktir.
Dan solusinya adalah:
1. Sadar bahwa:
Fat that you eat is the fat you wear.
Jadi gini, kalo tampak lemak bergelambir sana-sini, mungkin karena gue makan lemak sebanyak gelambir itu. Setelah menyadari, maka gue menyelesaikan masalah. Yakni dengan cara MENGURANGI kalau perlu MEMANGKASNYA.
2. Sadar bahwa:
Tubuh gue nggak boleh disiksa.
Dalam arti, jangan dimasukkin makanan secara berlebihan, dan juga jangan dikurangin berlebihan. Dalam pengertian lain, yes, right, gue akan mulai menyeleksi, makanan apa yang boleh masuk, dan yang forbidden. Nantinya gue berharap, gelembung yang tampak di tubuh gue ini, sudah JELAS apa penyebabnya, dan dengan mudah mengeksekusi pemecahannya.
3. Selama 22 hari, gue akan menjadi mendetoks tubuh gue. Gue mau main cilukba dan petak umpet dengan: minyak, gula, garam, apalagi MSG.
Harapan gue dengan pengaturan makanan ini, gue bisa menjadi lebih sehat, perut gue menjadi tipis dan kencang sehingga bisa mecahin kulit kacang kenari.

Image

Iklan

5 thoughts on “Diet ala Vegan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s